Ask @AnastasyaFhily:

Kak... kakak kan tinggal di Timika. Kerja di freeport gak? mau gitu jadi budak freeport yang mencemari lingkungan di Papua?

Gak kerja di Freeport sih tapi kerja di kontraktor yang menyuplai tenaga kerja ke Freeport. Dimana-mana kalau kita kerja bukan buka usaha sendiri ya kita jadi budak kok. Selama saya masih hidup di Timika dan saya masih sehat-sehat tanpa ada penyakit aneh-aneh karena limbah Freeport, saya nggak mempermasalahkannya. Lagi pula, kalian yang belum pernah ke Papua khususnya di Timika-Tembagapura jangan sembarangan menuduh tanpa ada bukti. Oke, memang Freeport menghasilkan limbah. Tapi mereka punya yang menangani bagian environmental kok setahu saya. Dan yang saya saksikan sendiri di sini, limbah Freeport itu memang berdampak tailing tapi tailing itu diendapkan di tanggul kok gak dibuang ke pemukiman warga. Selain itu, tailing itu malah dimanfaatkan malah untuk pembuatan jalan-jalan di Timika-Tembagapura. Malah lebih bagus ada pemanfaatannya. Jadi mbok ya, jangan asal ngejudge juga sebelum datang sendiri ke Timika-Tembagapura. See u here! :D

View more

kak cerita dong awal RED bisa di terbitiiin.. kakak kirim naskah atau gimana? hehe

panjaaaaaanggg... pertama tuh kirim2 naskah ke berbagai penerbit tapi gak di respons sama ada yang di tolak trus suatu saat Penerbit DP (inisial) hubungi lewat email naskah aku keterima gitu. aku kan senang udah di sodorin MoU-nya tapi udah di balas emailnya belum ada respons soal penerbitan langkahnya gimana. Beberapa bulan kemudian di email kalau quota buku yg mereka terbitkan lagi melampaui batas jadi untuk sementara waktu pending sampe batas waktu yang belum di ketahui. Ya aku sabar nunggu aja. Tapi udah hampir setahun gak ada yang jelas. Padahal penerbit itu sering ngadain lomba nulis gitu. suatu ketika salah satu editor penerbit EMC (inisial) menghubungi aku via wattpad mau minta softcopy buat review untuk di terbitkan. aku seneng lagi seenggaknya ada jalan lain. setelah kukirim dan aktif chat sama editornya selalu nanya kabar naskah. perkembangan terakhir dia masih baca. tapi lama2 aku chat editornya ga dibalas lagi. ya aku pikir udahlah kalau rejeki pasti gak kemana. tiga bulan berlalu belum ada kabar pula. sampe suatu ketika salah satu editor penerbit GSW (inisial) menghubungi aku via email padahal penawarannya belum sampe 3 bulan katanya nanti naskahku bakal diproses. Diminta kirim data2 aku semuanya via email. setelah kukirim walaupun udah 2x naskah belum jelas entah kenapa aku yakin naskahku bakal terbit di sini. maka dengan keberanian aku mutusin untuk menarik naskah dari penerbit DP dan EMC jadinya dikirim surat putusan gitu. setelah naskah ditarik. puji Tuhan mulai ada titik terang sama editor di GSW langsung dikasih jadwal terbit setelah itu ternyata naskah harus di rombak dari 400an halaman jadi 200an aku sama editor kerja seminggu lagi. trus ada tahap proof 1 - 3 sebelum terbit. sangat excited saat editor memperlihatkan cover. apalagi ketika sudah ada tanggal pasti terbit. dan ternyata terbitnya bareng dengan realese-nya album taylor swift. dan akhirnyaaaa jengjeng terbitlah red di toko2 buku. usaha gak sia2 dari ditolak sana-sini di phpin 2 penerbit sampe luckily benar2 terbit. berasa i'm luckiest one :)

View more

Next