Ask @Rio_damar:

Kak gimana sih biar kita tetep low expectations, agar tidak terlalu berharap sesuatu. Tapi kita kadang2 juga perlu pede kan

nurin awanis
Menjadi realistis bukan berarti low expectations dong. Ekspektasi itu bisa jadi motivasi tapi juga bisa jadi jebakan. Oleh karena itu, kita harus lebih cermat.
Cobalah melihat bahwa setiap orang punya proporsinya masing-masing. Jika satu orang hebat di satu bidang, ada bidang lain yang orang lain bisa lebih hebat dari kita. Akan lebih baik ketika satu kehebatan bisa bekerja sama dengan kehebatan lain tanpa harus saling menjatuhkan.
Percaya diri itu bukan dengan menjatuhkan orang lain. Jika ada hal yang bisa kita banggakan terhadap diri kita, pastikan kita punya alasan yang valid dan ada baiknya juga biar kehebatan kita yang berbicara, bukan mulut kita yang sibuk bicara tentang kehebatan diri sendiri.

View more

menurut kak rio, gmna aku harus ngehadepin mama yang hmophobia, padahal aku sendiri gay, mama jadi homophobia gara2 papa yg juga gay. pgn tau dulu kak rio waktu melela ke mama seperti apa kak?apa yg kakak lakuin?

Kevin Paundra
Rasanya kita harus lebih cermat ketika menggunakan istilah homofobia. Homofobia itu terjadi kepada orang2 yang memiliki rasa benci terhadap kelompok orientasi seksual minoritas rentan tanpa alasan yang jelas. Alasannya nggak jelas, karena itu ada istilah -fobia dalam homofobia. Sama seperti klausterfobia (takut terhadap ruang sempit), sosialfobia (takut terhadap kerumunan orang), atau Agorafobia (takut ketika harus sendirian). Sama dengan homofobia, alasan ketakutannya tidak bisa dijelaskan dengan bertanggung jawab dan rasional.
Melalui cerita kamu, rasanya ada luka yang harus disembuhkan dan ini adalah alasan yang cukup masuk akal sehingga mungkin tidak tepat jika menggunakan istilah homofobia. Menurutku, sebelum kamu membicarakan tentang diri kamu, ada baiknya kamu membicarakan mengenai luka tersebut. Membicarakan pengalaman yang kita nggak suka secara rasional adalah adalah satu langkah menuju hidup yang sehat.
Setelah kamu tuntas membicarakan tentang luka tersebut, barulah kamu mulai mempertimbangkan untuk menceritakan tentang diri kamu. Proses komunikasinya agak panjang, oleh karena itu musti sabar dan pelan2.
Karena prosesnya panjang, maka komunikasi semacam ini suka kuberi nama "percakapan sulit". Percakapan sulit ini terjadi ketika kita harus menerangkan kepada orang lain tentang sesuatu yang biasanya orang nggak paham atau nggak setuju dengan apa yang kita sampaikan tapi menurut saya "percakapan sulit" tetap harus dilakukan karena tujuannya bukan untuk mencari persetujuan, melainkan hanya menyampaikan perspektif saja. Tujuannya adalah orang "ngerti" akan perspektif kita. Ngerti dan setuju adalah dua hal yang berbeda. Terkadang percakapan sulit nggak bisa dilakukan hanya sekali.
Karena percakapan sulit artinya kita akan menyampaikan sesuatu yang mungkin orang lain nggak suka. Oleh karena itu, sebelum memulai, ada baiknya dikasih aba-aba. Misalnya, "Aku mau meyampaikan pendapat yang mungkin mama nggak suka. Aku ingin mama tahu bahwa ini hanyalah pendapatku saja, dan aku mau tahu bahwa ini datang dari rasa sayangku sama mama."
Ini adalah contoh aba-aba. Biasanya setelah itu kita lihat reaksi orang yang kita ajak ngomong, apakah ia siap atau tidak, apakah menyiratkan keinginan untuk tahu lebih lanjut? Perhatikan gerak tubuhnya, ekspresi wajahnya, gimana reaksinya? Ini kita ketahui kalau kita kenal baik sama orangnya
Ketika saatnya tepat, kamu bisa sampaikan bahwa memang dibohongi itu nggak enak, tetapi berbohong sama diri sendiri itu jauh lebih nggak enak. Apa yang terjadi kemarin adalah seseorang tidak hanya berbohong sama mama tetapi ia juga berbohong sama dirinya sendiri. Banyak alasan untuk berbohong, salah satunya mungkin kita berbohong untuk melindungi orang yang kita sayang dari perasaan yang tidak enak. Tetapi apaklah kita ingin orang yang kita sayang terus-menerus berbohong? Rasanya tidak.
Setelah terbangun logika yang sehat, barulah kamu mulai mempertimbangkan untuk menceritakan tentang dirimu. Good luck.

View more

Bagiamana caranya terbindar dari rasa baper atas kebaikan seseorang? Krn orang itu baik dan kata temen-temennyapun menyatakan bahawa dia memang baik orangnya😀

RM
Jadi aku tuh pernah naksir sama sepatu. Harganya mahal dan, kalau mau rasional, rasanya ngeluarin uang segitu buat sepasang sepatu bukan langkah yang tepat juga.
Jadi yang kulakukan adalah ya dilihat aja sepatunya. Kadang2 kalo lewat tokonya aku suka berhenti sebentar, sepatunya aku lihatin, bahkan aku ajak ngobrol "Hi sepatu, apa kabar?" hahaha
Sepatunya nggak salah. Emang dia tercipta bagus aja. Dan gue yakin banyak orang yang mikir dia bagus juga. Dia hanya menjadi dirinya sendiri dan guenya baper sama sepatu ini.
Menjawab pertanyaan kamu, baper itu bukan hal yang menyebalkan kalau kita bisa bermain dengan perasaan sendiri. Aku nggak nutupin kalau aku suka banget, nggak aku tahan kalau emang pengen "ngobrol" sama sepatunya dengan sopan dan baik-baik, tetapi di sisi lain aku juga melatih diriku untuk bisa rasional untuk nggak pake duit tabungan.

View more

Yg km pikirkan, low mantan tiba2 bilang kangen k km?

Airy Dyedier
Ya nggak masalah sih karena menurut gue wajar kalo mantan kangen. Kalo mantan bisa ngomong gitu, biasanya artinya kita putusnya baik-baik dan bisa putus dengan baik adalah hal yang baik juga.
Namanya juga pernah pacaran. Pernah menghabiskan waktu bareng. Ketawa bareng. Sedih bareng juga.
Saranku sikapi dengan sewajarnya saja. Nggak usah berlebihan. Kangen kan bukan berarti minta balik. Nggak usah mikir macam-macam di luar proporsinya. Membina hubungan baik itu penting.

View more

Kalau memang berfikir untuk bekerja dulu, lebih baik yang mana ya mas rio? Terimakasih.

Pristian Aldy Pratama
Kalau mau bekerja dulu, ga usah terlalu mikirin mau ngambil toefl, ielts, atau toeic dulu. Namun kalau bisa pastikan ada penggunaan bahasa Inggris ketika bekerja. Misalnya, pekerjaan kita menuntut kita ngomong pake bahasa inggris, atau nulis e-mail dan baca dokumen berbahasa Inggris. Setidaknya ada sedikit kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris ketika bekerja untuk mengasah kemampuan. Bahasa itu harus sering dipakai agar ilmunya nggak menguap sekalian juga supaya kalau mau ambil tes bahasa Inggris sudah ada bekal. Nggak kaget karena sudah terbiasa.

View more

+1 answer in: “Mas rio, mana yang sebaiknya saya ambil antara tes toefl atau toeic ya?. Saya merupakan mahasiswa yang mau lulus kuliah dan saya mulai berfikir untuk menyiapkan dokumen pendukung yang mungkin dibutuhkan nantinya. Terimakasih mas rio.”

Kak ioo, kaka perna ga jdi doi yg setiap kebutuhan cewenya selalu kaka yg menuhin tanpa kaka minta atau kode jdi pekanya setengah mampus jdi kaya cuma kebutuhan sekunder doang langsung d beliin ini itu ini ini kaya ngerasa beban gitu ga si kakkk? Apa emg cowo kaya gt ya ka?

Synndy Al Azizah
Gue kemaren baru aja diskusiin ini. Ada cowok yang berpendapat kalau. "Kalau gue punya pacar, segala kebutuhan primernya dia gue yang penuhin. Kalau dia punya uang jajan atau penghasilan lain, itu buat kebutuhan dia yang lain selain kebutuhan primer."
Sesuai dengan diskusi gue kemaren, gue sih nggak setuju dengan pemikiran ini. Kebutuhan primer seseorang ya orang tersebut lah yang harusnya memenuhi. Kalau loe punya pacar, dan pacar loe mau bantu, itu adalah kebutuhan di luar kebutuhan primer loe.
Trus kalau pacar loe rejekinya lebih banyak dan bisa bantu loe gimana dong? OKE sekarang gini: setiap orang udah ada rejekinya masing-masing. Menikmati rejeki itu bukan tentang seberapa banyak yang kita hasilkan, tetapi gimana kita bisa memafaatkan rejeki yang kita dapatkan, berapun jumlahnya. Fokuslah dengan apa yang kita punya, bukan apa yang nggak kita punya. Berdasarkan itu, setiap orang ada standar hidupnya masing-masing. Standar hidup loe dan pacar loe bisa beda, dan kalau kalian saling-sayang, masing-masing bisa menyesuaikan untuk kepentingan bersama.
Milsanya, standar makan loe adalah makanan restoran yang nggak ada AC-nya, sementara standar makan pacar loe adalah makan restoran yang ada AC-nya. Nggak semata-mata karena loe pacaran sama orang yang rejekinya lebih baik, standar loe jadi berubah ke restoran yang ada AC-nya. Kalau setiap loe mau makan, loe akan bergantung sama pacar loe, mental seperti apa yang akan loe bangun sama pacar loe?
Kalau pacar loe sayang, dia nggak akan masalah makan di restoran non-AC bersama loe. Begitu juga sesekali bikin dia seneng makan di restoran yang dia suka juga elo OK kalau harus dibayarin. Pacar loe juga pasti seneng kok kalo bisa membantu loe, tapi bukan berarti elo harus terus dibantu. Hal-hal yang bisa disediakan oleh pacar loe bisa dijadikan motivasi untuk bekerja lebih baik dan memiliki standar yang lebih baik pula. Tetap diingat bahwa makan di restoran yang ada AC-nya adalah standar pacar loe, kalau loe mau standar yang lebih baik, itu adalah tugas loe, bukan pacar loe. Pacar loe akan jauh lebih respect sama loe ketika elo bisa bilang "Nggak usah dibayarin yang ini, aku ada kok." Trus loe bilang terima kasih karena udah ditawarin.
Lalu mengenai pertanyaan kamu yang "Tanpa kaka minta atau [kasih] kode" sih menurut gue itu nggak bagus ya. Kita harus membiasakan pacar kita sebagai manusia biasa, bukan tukang baca pikiran orang, peramal, atau cenayang. Ketika ada hal yang kita sukai dari pacar kita, biasakan untuk belajar menyampaikannya; begitu juga ketika ada hal yang kita nggak sukai, belajarlah gimana cara yang tepat mengatakannya. Ketika kita butuh bantuan, cobalah mengatakannya. Berharap pacar kita ngerti kebutuhan kita tanpa kita ngomong adalah mental anak manja yang ingin keinginanannya tercapai tanpa harus usaha apa-apa.

View more

Gimana pendapat kalian ttg gap year?

Bruschetta
Setuju banget. Bahkan, mereka yang ambil gap year, prestasi kuliahnya lebih baik dibanding mereka yang langsung kuliah setelah SMA. Jadi, setelah lulus SMA mau jalan-jalan dulu, nggak langsung daftar kuliah, liburan selama setahun sebagai gap year, ya nggak papa.
Coba deh baca "Outliars"-nya Malcolm Gladwell. Di situ dijelaskan kenapa anak2 yang telat setahun lebih berprestasi dibanding mereka yang masuk kuliah sesuai angkatannya.

View more

Mas rio, mana yang sebaiknya saya ambil antara tes toefl atau toeic ya?. Saya merupakan mahasiswa yang mau lulus kuliah dan saya mulai berfikir untuk menyiapkan dokumen pendukung yang mungkin dibutuhkan nantinya. Terimakasih mas rio.

Pristian Aldy Pratama
TOEFL atau TOEIC sama aja, tergantung universitasnya minta apa. Sebelum menentukan ambil tes apa, yang dicari tahu adalah universitasnya dulu. Universitas mana yang menarik minat kamu lalu pelajari syaratnya apa. Informasi tesrebut biasanya ada di website mereka. Setelah tahu universitasnya minta apa, kamu bisa menentukan mau ambil TOEFL atau TOEIC. Ambil yang diminta sama universitasnya aja, agar ngga buang-buang uang. Tesnya kan gak gratis lho. Be efficient.

View more

+1 answer Read more

kak gimana sih cara bagi waktu kuliah 2 jurusan di 2 universitas??Gmn cara kakak ngatasin kalo misalnya jadwal kuliah bahkan uts apa uas bentrokan? Kl dobel jurusan gitu sebaiknya dosen wali kita tau ga kak??

Hehehehe
Harusnya tahu, dong. Justru dosen wali adalah pihak yang tepat diajak diskusi tentang mata kuliah apa yang bisa diambil agar jadwalnya bisa jalan. Perhitungkan juga waktu tempuh jika kamu harus ngejar kelas di universitas yang berbeda, naik apa, kira-kira berapa lama. Perhitungkan pula muatan tugas yang bakal muncul di suatu mata kuliah sehingga tetap proporsional dan realistis. Misalnya, udah ngambil mata kuliah A yang tugasnya banyak banget dan harus dikerjakan di lapangan, hindari ambil mata kuliah lain dengan jumlah tugas yang banyak pula.
Pihak dosen wali, ketua jurusan, dan orang-orang di jurusan kamu adalah pihak yang mampu membantu kamu. Hubungan dengan mereka harus baik dan lancar.
Ketika ujian dan jadwalnya bentrok, tanyakan apakah kamu mungkin ambil jadwal ujian di waktu yang lain. Biasanya izin ini nggak bisa dateng dari dosen wali, melainkan harus datang dari ketua jurusan. Dulu rencana belajarku selalu ada tandanya "Broken Schedule" oleh ketua jurusan karena harus konsultasi ke dia setiap ada jadwal ujian yang bentrok.
Pastikan kita memudahkan pekerjaan setiap orang yang terlibat. Misalnya, ketika datang ke Ketua Jurusan, kita udah tahu langkah apa yang akan kita ambil, sehingga ia ia hanya memberikan saran dan persetujuannya saja. Misalnya, satu dosen biasanya mengajar untuk beberapa kelas, bisa untuk kelas mahasiswa reguler dan mahasiswa kelas ekstensi. Kamu bisa ikut jadwal ujian mahasiswa ekstensi jika jadwal ujian mahasiswa reguler nggak memungkinkan. Jangan datang ke Ketua Jurusan dengan harapan dia yang akan mikirin jadwal yang pas buat kita. Kitalah yang harus aktif.
Kuliah di 2 jurusan dan 2 universitas yang berbeda memang menuntut perencanaan teliti. Beban kuliah kamu dan usaha yang dikeluarkan akan dua kali lipat dari teman-teman kamu. Ketika kamu berhasil, ada kepuasan di diri kamu sudah menyelesaikan rintangan yang lebih besar ketimbang teman-teman kamu. Kamu jadi lebih menghargai kerja keras ketimbang cara-cara instan yang hasilnya juga instan. Di samping itu, kamu juga melatih mental kamu agar tidak gampang menyerah.

View more

kak, anyway gw gay. Mungkin orang lain pernah nanya beginian sebelumnya. Yang gw tanyain kak.. Gw udah beberapa kali putus dengan yang sebangsa kita, karena mereka gak bisa untuk disetujui oleh kerabat. Kak kenapa harus bule? emang sih lagi deket ama bule. entah knapa sebangsa sendiri masih enak aja

Mau siapapun pasti ada enak dan nggak enaknya. Masalah restu orangtua, saya melihatnya itu hanya bentuk kekhawatiran orangtua aja. Orangtua punya hak utuk khawatir sama anaknya, oleh karena itu kita punya kewajiban untuk membuat orangtua kita tidak khawatir. Tunjukkan bahwa kita punya hal2 yang patut dibanggakan, misalnya: punya banyak prestasi, nilai kuliah bagus, dan tidak merepotkan orangtua. Penerimaan akan lebih mudah ketika kita tidak terlalu tergantung oleh orangtua. Usahakan memenuhi hal2 yang dianggap “penting” oleh orangtua kamu walau kamu sendiri berpendapat sebaliknya. Make them happy. Lalu, ketika kita sudah menunaikan kewajiban dan mulai mandiri, artinya kita akan mulai belajar mengambil pilihan2 dewasa yang melibatkan orangtua, seperti ketika kali pertama pamit untuk tinggal di luar rumah, ketika kita ngomong ke orangtua bahwa orientasi kita berbeda, sampai ngenalin pacar ke mereka. Lakukan bertahap karena ini artinya kamu memberikan ruang bagi orangtua kamu untuk memproses keputusan kamu, siapa diri kamu, dan apa hal yang membuat kamu lengkap sebagai manusia. Kalau sudah mandiri, hindari melela dan ngenalin pacar secara bersamaan ke orangtua. Terlalu banyak informasi yang harus mereka proses dalam satu kesempatan. Banyak kisah2 di www.melela.org yang bisa jadi bahan inspirasi. Lakukan secara pelan-pelan, bertahap, dan ingatlah bahwa kamulah yang bertanggung jawab atas hidup kamu serta kebahagiaan kamu. Orang lain mungkin butuh waktu untuk memahaminya tetapi tetap perlakukan mereka dengan baik ya.

View more

Next