Ask @aditgrimm:

kalo mau ngerubah 1 hal dari masa lalu kalian, mau ngerubah apa?

Kejadian ini. Semalem nyokap gue BBM kayak gini jam 12 malem.
Nyokap:
Dit
Adit:
Ya?
Nyokap:
Papa mana
Nyokap:
Kaka mana
Adit:
Papa kan lagi keluar kota...
Nyokap:
Adit lAgi apa
Adit:
Kakak gatau....
Adit:
Mama kenapa? -_-
Nyokap:
Sini dit
Adit:
Ini Mama kan? Bukan pembunuh liar yang nunggu di atas?
Nyokap:
({})
Nyokap:
Mama yg di film mamaaaaa
Adit:
Hiih..
Nyokap:
Aku cari anak ku yg hilang tersangkut di ranting
Anjing banget taugak. Gue kira nyokap gue sedih gitu kan bokap gue lagi keluar kota dan kakak gue belom pulang, tapi gue jauh lebih paranoid kalo sebenernya ada pembunuh gila di kamar nyokap gue dan manggil gue untuk nyari korban. Gue udah siap-siap bawa kucing gue ke atas (gue suka gitu kalo takut, kalo ada pembunuh atau ada setan atau ada apa gue lemparin kucing gue). Terus bokap gue tiba-tiba turun. Ternyata dia diem-diem pulang dan ngebajak BB nyokap gue. Anjing banget sumpah.

View more

Pap foto kamu Donk

Or how about one of sheeply pigs instead?
http://ask.fm/QikyeMuslimah/answer/131054816006
1. It's actually called 'mangalitsa' (or 'mangalica').
2. Hewan ini bukan hasil gabungan antara babi atau domba. Hanya babinya yang dibiak agar memiliki bulu seperti domba.
3. Hewan ini bukan 'tekhnologi' baru, karena pertama kali dibiak tahun 1830 oleh Archduke Joseph, Palatine Hungaria.
4. Orang Muslim tidak sebodoh itu sampai dikira tidak bisa membedakan babi dan domba.
5. Stop thinking that the world is out to get Muslims and destroy Islam. There's no such thing as pure religious hatred. There is always, always something political.

View more

kenape sih nanya agama disini dibilang gak sopan? Padahal tinggal jawab islam/kristen/budha/hindu gitu aje kok ribet

Karena agama nggak cuma Islam/Kristen/Buddha/Hindu. Tebakan gue sih, dengan begitu, lo mengacu ke agama-agama yang resmi dikenal negara? Katolik dan Kong Hu Chu ketinggalan.
Nggak semua orang konform ke label-label yang ada. Lo tau gak perbedaan antara istilah-istilah ini?
Theism
Monotheism
Polytheism
Pantheism
Deism
Atheism
Apatheism
Antitheism
Gnosticism
Agnosticism
Ignosticism
Asumsi gue sih enggak, karena dari 700+ responden angket gue yang gue sebar beberapa hari yang lalu, banyak yang tidak kenal dengan istilah-istilah ini dan sering keliru akan arti-artinya.
Emang rasanya gampang bagi orang-orang teis. "Oh, saya Muslim." "Oh, saya Kristen."
Tapi bagi banyak orang yang bukan teis, yang menggunakan bahkan lebih dari istilah-istilah yang gue katakan tadi untuk menjelaskan diri mereka, contoh; Solipsis, Free Thinker, Humanis.
Kenapa banyak orang gamau jawab? Karena banyak user-user dan anon-anon di ask.fm yang menghakimi (mungkin istilah yang lebih tepat adalah 'mengganggu') orang-orang yang memilih untuk menyandang agama/kepercayaan/filsafat/ideologi tersebut.
Seringkali di ask.fm gue liat pertanyaannya suka anjing.
"agama lo apa"
Tanda tanya aja nggak ada.
Dalam kelas Speaking gue, diajarin cara sopan kalo mau nanya.
"Do you go to church?"
"Do you celebrate (insert religious holiday here)?"
Sebenernya, kalo di kehidupan nyata, nanya kayak begitu masih bisa diterima, dan dianggap wajar. Tapi di sini...I don't think so.
Dan gue sering kok, pas ditanya, gue jawab. Dan yang nanya tuh sopan.
"Maaf, kalau boleh saya tanya (dan saya harap Anda tidak tersinggung), apakah kepercayaan Anda? Tidak apa-apa kalau tidak mau jawab, mohon maaf bila saya menyinggung Anda."
Pernah kok begitu. Mau nanya ya gausah seformal itu juga sih. Tapi liat dong tata kramanya ada. Etika sosialnya ada. Nggak kayak orang mabok seleweran.
Mau orang itu menjawab apapun, itu hak dia toh. Kalau dia mau menyembunyikan, yaudah. Itu hak asasi dia. Urusan pribadi dia. Terus kalau dia jawab ini atau itu, informasi itu mau diapain?

View more

PAP

Sebagai pengguna ask.fm yang baik, gue akan menggunakan kesempatan ini untuk terlihat keren dan ngepost sesuatu yang keren karena ya pfft who gives a fuck really I wanted to share this anyway. Courtesy of my friend, the admin of indonesianhistory on tumblr.
-------------------------------
Marie Thomas, the first female doctor hailing from Minahasa, the only woman out of 180 STOVIA students. Because of her, Dutch women started giving out scholarships to get more girls studying medical science in STOVIA.
Rasuna Said, a Minang muslim scholar who studied Attaturk and politics, contributed to empower education for women and girls as well as promoting freedom of speech and thinking. She’s the ‘I destroy your bro code’ kind of girl.
Martha Christina Tiahahu, daughter of Captain Paulus Tiahahu, one of the men fighting under Thomas Matulessy (Pattimura)’s command against the Dutch. Known for her red sash she usually wore at the battlefield, she gathered the women to bear the arms so they could assist the men in fighting. When they killed her father but spared her because she was barely a teen, she would later come back with her own troops. I have something regarding her here.
Fatmawati, wife of Soekarno, the first president of Indonesia, mostly remembered for sewing the Indonesian flag flown during the declaration of independence in 1945. Participated in Women’s Congress and invited the participants to Merdeka Palace.
Tribhuwanatunggadewi, empress of the Majapahit Empire. She tamed the arising Sadeng and Keta rebellions in 1331, personally led her army assisted by her cousin, Adityawarman. She expanded the empire across the archipelago, sending her relatives to rule Majapahit protectorates to secure the empire’s dominion in Southeast Asia. Her son would follow in her footsteps later. She later sent Adityawarman to conquer the remnants of the crumbling Srivijayan Empire, who later ruled as Majapahit’s vassal in Sumatra under her command. Nobody really knows what she looked like because she was mostly presented by the statue of Goddess Parwati—-this is an artist’s rendition of what an old Indonesian queen might look like, but I couldn’t find the artist.
Malahayati, first female admiral in Indonesia, and later worked as the head of the Sultan of Aceh’s bodyguards (1585 - 1604). She led 2000 women, members of the Inong Balee Brigade (originally consisted of women whose husbands got killed in battles) to attack the Dutch in 1599. She killed Cornelis de Houtman at the ship deck, personally defeating him on a one-on-one combat. Her legacy passed to another notable heroine, Cut Nyak Dhien, who personally trained the Inong Balee during the Aceh War.
Raden Ajeng Kartini, as you know well, a princess from Jepara. I put her as ‘the destroyer’ because she fought for equality, free-thinking, and if anyone noticed her letters, she implicitly asked her penpals that if Europeans were so civilized, why would they colonize people.

View more

Dit waktu itu lo di ceplokin di sekolah ya?adek gua ngeliat masa...

Nih ya, seumur hidup gue, gue enggak pernah kalo ultah di surprise-in. Apalagi di ceplokin. Nggak ada yang berani ceplokin gue. Mereka takut gue bentak-bentakin dan takut gue kutuk. Gue tuh terkenal dari SD dengan kutukan-kutukan gue. Waktu gue SMP di Alix ada Alix Cup dan gue di assign untuk jadi tukang bersih2 sampah, dan gue sengsara banget, karena sama senior-senior gaboleh pulang sampe acara selesai. Waktu hari pertama gue bilang ke temen-temen gue, gue sumpahin Alix Cup dari awal sampe akhir itu hujan besar. Terus pada hari itu, lucunya gue bisa kabur dari senior-senior. Gue pulang naik bajaj, dan pas gue sampe rumah dan nutup pintu, JEDER! Hujan terbesar sepanjang tahun itu. Sampe-sampe billboard di Citos ambruk. Dan you know whaat, sepanjang Alix Cup gak berhenti-berhenti ujan.
Terus pernah lagi pas SMA, rambut gue kan gondrong, dan gue udah potong rambut. Pas gue ke sekolah besoknya, ternyata potongan gue kurang memuaskan guru-guru Alpen. Katanya atasnya kurang pendek. Dan you know what, gue disuruh izin keluar buat cukur terus balik lagi. Gue udah ngeliatin guru-guru gue dengan the Evil Eye nih. Gue naik ojek pulang, kata si tukang ojek "Deket sini ada dek tukang cukur" gue jawab "Kagak bang, gue pulang aja, ntar sama supir gue ke langganan gue di Wijaya" (yang jauh dari Pejaten HAHAHA). Gue pulang, gue cukur di Wijaya. Gue udah ngilang 2 jam tuh dari sekolah. "Macet bos, gapapa telat balik ke sekolah?" Tanya supir gue. "Oooh ya gapapalah. Emang mereka bakal kangen aku gaada?" Gue bilang. Gue pulang, gue ganti baju, gue otw ke sekolah deh. Dan what do you know. Hujan terbesar di tahun itu juga. Sampe-sampe jalan nggak keliatan apa-apa, sampe pohon-pohon di sekitar rumah gue pada tumbang. Gue tanya ke temen gue yang di sekolah. "Dit Alpen banjir" gue anggap biasa aja "Di lantai tiga. Dan mati lampu.". Dan gue ketawa sejahat-jahatnya ketawa.
Tentunya gue tau gue bukan semacem penyihir (walaupun nama panggilan gue The Hag pas SD), dan gue cuma cocoklogi, but it's fun to think that I have malevolent magical powers.

View more

describe guru kesayangan dong

Dalam seketika, sekolah terasa hening. Tembok-tembok sekolah itu menjadi saksi dan korban bisu akan reverberasi suaranya yang menggelegar itu, suaranya yang tiada tara, yang bisa terdengar dari seluruh pelosok dan penjuru Pejaten. Lantai-lantai keramik itu bergetar.
Pintu itu terbuka dengan kasar. Dengan badannya yang tangguh itu, ia masuk dengan angkuh, seakan tidak ada pintu sama sekali. "Assalamualaikumwarohmatullahiwabarokatuh." Ia bersalam, wajahnya menghadap ke bawah, membawa setumpuk kertas dan laptopnya.
"Nak tolong bantuin ibu nak." Iya katakan ke seorang lelaki kurus di depannya. Ia memutuskan untuk lewat tengah mejanya karena susah menggerakkan pantat berbulu teman sebelahnya.
Kemudian ia mulai mengajar. Ia mengajar dengan cepat. Dan hanyalah judi liar untuk mengetahui apakah akan dimengerti atau tidak, tapi yang jelas, aku mengerti. Bibirnya itu tebal, dan dari celah itu, suara yang keluar serak seperti suara megafon yang sudah retak-retak karena usia tetapi tetap menulikan telinga. Matanya kecil, namun terlihat ganas di belakang lensa kacamatanya. Tubuhnya gempal, dan dengan satu senggolan bokongnya ia bisa merubuhkan puluhan ton.
Yang terdengar di kelas hanyalah suaranya yang nyaring. Mendadak penjelasan-penjelasan mengenai kondisi sosio-kultural masyarakat itu terpatah, dan suara wanita itu naik beberapa oktav.
"HEH! KAMU!" Bentaknya. Mendadak ruangan sunyi, dan semua mata tertuju ke belakang, ke lelaki kerempeng yang nampak seperti kijang yang tanduknya nyangkut di bemper.
"IBU LIATIN KAMU DARITADI. MATANYA KEMANA-MANA, JELALATAN BEGITU! KAMU KAYAK IKAN MAS KOKI, MAS!? TAU GAK KAMU!? YANG DI JUAL DI PASAR TUH, YANG DITARO DI DALEM KANTONG PLASTIK YANG AIRNYA BUTEK, IKANNYA UDAH MAU MATI DAN MATANYA JELALATAN!? KAMU TAHU!? MUKA KAMU KAYAK GITU!"

View more

menurut Anda, apakah kasus pemerkosaan adalah sepenuhnya salah wanita karena berpakaian (lumayan) terbuka?

Pemerkosaan adalah salah sang pemerkosa. Titik. Wanita tidak diperkosa karena pakaiannya. Liat aja deh di Arab Saudi, wanita di sana pakaiannya kayak gimana? Tapi masih banyak kasus pemerkosaan kan? Baju mau gimana juga kan bisa dilepaskan.
Memang betul berpakaian terbuka itu provokatif, tapi dalam skala tertentu. Menurut gue sih, nggak ada salahnya berpakaian dalam cara tertentu (walaupun gue sendiri agak nggak enak ngeliat pakaian yang terbuka karena nilai-nilai yang udah terlanjur terinternalisasi di dalam diri gue), namun, mengetahui bahwa Indonesia (ataupun, bahkan, negara 'semaju' Amerika) belum bisa menerima kebebasan hak dengan baik, menurut gue sih, ya...try to be a little modest for your own safety, as much as I hate to have an opinion that tells people what they SHOULD do when they dress. Dalam tempat yang tertutup, ya...mungkin bisa lebih diterima, tapi di tempat umum...that's a bit risky.
Tapi gue tetep bertahan kepada inti tadi. Wanita tidak diperkosa karena pakaiannya. Tidak ada korban pemerkosaan, mau dia perempuan atau laki-laki atau apa, yang berhak disalahkan. Dan sudah waktunya bagi masyarakat Indonesia secara umum untuk menyadari hal tersebut.

View more

#hh Pernah nggak punya satu pengalaman di hidup kamu yang paling berkesan, nggak bisa dilupain, dan akhirnya merubah kamu menjadi seperti sekarang? Kalau ada, tolong diceritain :)

Ada perasaan kosong yang terus ada sejak Oma gue meninggal. Dulu waktu beliau masih ada, setiap gue pulang sekolah gue ke kamar dia yang dingin itu, dan dia selalu di tempat tidur (beliau nggak bisa jalan karena multiple sclerosis), kalo nggak nonton opera sabun di Star World, dia nonton Hallmark.
Gue ngerasa kayaknya gue sama Oma gue emang punya banyak kesamaan selain selera musik (dia suka musik klasik, opera dan dulu katanya pinter dansa Salsa dan Cha Cha Cha). Kita sama-sama sabar, tapi gak sabaran. Dan waktu gue masih kecil, di mana gue merasa beda dari yang lain di sekolah dan sama keluarga sendiri, gue merasa nyaman dan aman di kamar oma gue. Salah satu kerabat keluarga gue bilang, waktu itu Oma gue bilang ke dia tentang gue, "He is my sun", as in, nama gue, Aditya Pradipta yang artinya 'matahari terang'.
Terus dia meninggal. Terakhir gue ngeliat dia Subuh sebelum dia dibawa ke rumah sakit. Gue masih 9 tahun kayaknya, jadi gue di rumah aja. Kata nyokap gue sebelum dia meninggal dia nyariin gue.
Entah ya, sejak dia meninggal, hawa rumah beda. Banyak tanaman yang mati, yang biasanya dia urus. Tamu-tamu semakin hari semakin sedikit yang dateng, padahal dulu sering ada tante ini lah, oom itu lah, pak ini lah, ibu itu lah, dan setidaknya setahun tuh ada dua kali dia kumpul-kumpul sama temen SD, SMP dan SMAnya, dan mereka walaupun tua-tua, liar-liar lho (dan salah satu alasan kenapa gue setahun sekali ngerayain ulang tahun gue dan ngundang temen-temen gue dari yang lama sampai yang baru). Rumah jadi kayak kosong, begitu, walaupun keluarga banyak, pembantu banyak, peliharaan banyak (jin juga banyak :p).
Sampe sekarang gue belom pernah nemuin siapapun yang gue bener-bener ngerasa nyaman kalo berada di sekitarnya. Gue ngerasa, beberapa saat di hidup gue gak bakal sesepi atau sesedih itu kalo misalnya hari ini dia masih ada.
But, eh. Non, je ne regrette rien.

View more

#30daysongchallenge Day 02 – Your least favorite song

Alkupra
https://www.youtube.com/watch?v=16t-fDA50yY
Mars Al Azhar, at least, bagaimana caranya seringkali dipresentasikan. Udah kayak tema film kartun 80an yang isinya bajak laut kerudungan yang dikejar kapal-kapal gede di perairan butek sambil gagap.
YANG BIKIN GUE GREGETAN SEBAGAI EKS KETUA PADUAN SUARA ADALAH PAS 'wabilqurani imamaawahakkama ya Allahuakbar' itu malah kayak kereta api selendotan keserimpet terowongan jadi 'wabilquraniimamaawahakkamayaAllahuakbar' karena maksa banget..............
Bila dikehendaki, gue revisi deh ini mars, jadi lebih agung dan lebih teratur. Yang nyanyinya suaranya pop-pop gitu sih, padahal paduan suara dengan mars suaranya harus lebih operatik gitu. Takut dikira koor gereja kali ya sekolah gue? Duh. Al Azhar deh <3
(( mohon maaf Bapak Haji Cecep K. Sogoz ))

View more

Next