Ask @agnosindo:

Min... Gue anak SMK yang ngga ada uang untuk bimbel.. Mau belajar untuk SBMPTN dengan kosisten pun sulit karena gue ngga fokus dan gue yakin banyak banget yang sama kayak gue. Maka nembus SBMPTN pun juga hanya angan-angan saja.. Curhat yaaa admin baikk 😭😭

Ada namanya politeknik. ITS buka program Diploma, ada juga namanya Polban, Polinema, PPNS, PENS.
Aku tebak kamu ragu SBMPTN itu karena kamu ngincernya kampus-kampus gede yang notabene kebanyakan isinya program sarjana, tanpa memperhatikan adanya program Diploma.
Padahal ada juga namanya ekstensi, alias kamu dari diploma terus kuliah lagi jadi "sarjana".
S
ATM

View more

+2 answers in: “Min, hasil pertama snmptnku mengecewakan sekali..”

Min, aku punya kakak lelaki yg mengalami buta warna parsial (stlh cek mata saat mau masuk PTK). Tapi setauku orangtuaku tidak ada yg buta warna. Apakah benar kalau sebagai perempuan bisa membawa sifat buta warna tsb? Lalu mungkinkah nanti anakku mengalami buta warna juga? Terima kasih

Dhea
Buta warna itu bisa karena urusan eksternal, bisa juga karena genetika.
*maap, ini pengetahuanku mengenai genetika terbatas, sehingga ini kasarannya saja.
Setahuku, alasan mengapa lelaki lebih rawan buta warna (dalam konteks genetika), karena banyak kasus buta warna itu terkait kromosom X. Cowok kromosomnya XY, cewek itu XX. Kalau cewek punya kromosom X yang cacat, masih bisa ditutupi kromosom X yang satunya yang wajar. Kalau cowok dapat kromosom X yang cacat, ya, apes. Anak perempuan dari lelaki yang buta warna itu antara buta warna juga atau jadi pembawa buta warna.
Tapi kalau bapak dan ibu sama-sama normal terus anaknya buta warna parsial, itu udah ribet lagi, dan aku hentikan di sini daripada aku tambah salah bicara.
Sehingga kalau ditanya ada kemungkinan atau enggak, ya ada.
Seberapa besar? Gak tahu.
Apakah kamu perlu panik? Enggak, karena ortumu juga sehat-sehat saja, jadi bisa jadi anakmu nanti juga sehat.
S
ATM

View more

Kak,bagaimana caranya untuk menyadarkan teman yang terkena efek Dunning-Krugger?Masalahnya dia merasa pintar,sehingga dia suka menggurui dan menjelekkan orang lain,padahal isi otaknya kosong...

Kamu lebih baik tidak mencoba "menyadarkan" orang yang kena Dunning-Kruger.
Lebih baik fokus ke prestasi diri sendiri.
Ada alasannya neh:
1) Kalau kamu memang cerdas, setidaknya kamu punya suatu pembuktian, bahkan kalau kamu sendiri sedari awal tidak minta pembuktian. Mereka mau bilang kamu lebih bodoh dari dirinya?
2) Kalau kamu sukses terus-terusan, kalaupun mereka coba cari alasan lagi, lama-kelamaan mereka juga bakal kehilangan alasan.
3) Kalau mereka masih ngotot, setidaknya hidupmu sudah sukses, mereka enggak.
Intinya, fokus ke kesuksesan dirimu sendiri dibandingkan menyadarkan orang yang kena Dunning-Kruger.
S
ATM

View more

kenapa menwa cuma ada di kalangan mahasiswa universitas ya min? iya sih namanya aja resimen mahasiswa, tapi maksudnya kenapa ngga dibentuk juga yang sejenis menwa untuk kalangan pelajar SMA, atau sipil umum yang bukan mahasiswa?

Pertanyaan yang bagus, dan ini kebetulan juga bakal menyeret kamu ke beberapa konteks masa lalu.
Tebak, apa pendahulu Resimen Mahasiswa?
Walawa (Wajib Latih Mahasiswa) dan PACAD (Pendidikan Perwira Cadangan).
Bagian yang PACAD mungkin sudah bisa menjelaskan sendiri, karena kalau memang lulusan SMA mau perwira ya akabri (pada waktu itu, akabri) sementara strata pendidikan yang paling mendekati akademi militer yaitu ya, mahasiswa. Konteksnya karena memang untuk jadi perwira biarpun cadangan, dan yang diperlukan lebih ke kemampuan berpikir. PACAD sendiri bisa dianggap ekskul yang memang secara teknis bisa buat kamu jadi perwira, biarpun cadangan.
Tapi PACAD sendiri juga bentuk lebih murahnya Walawa. Ada kata kunci, "murah".
Beda dengan PACAD, Walawa itu bukan ekskul, tapi memang kewajiban. Sehingga, mahasiswa pada waktu Walawa masih ada, ya, wajib ikut. Ini jelas makan biaya, dan juga ketika urgensi Walawa sudah sudah dicari, maka faktor biaya jadi pertimbangan yang sangat besar. Itu juga faktor mengapa Walawa diganti PACAD, dan juga mengapa Walawa hanya ada untuk Mahasiswa.
Wajib militer untuk lulusan SMA secara keseluruhan itu jelas membuat biaya membengkak, sementara itu, lulusan SMA kalau tidak masuk akademi, mentok sampai di tamtama atau bintara. Tamtama biarpun tidak mudah tapi tetap dapat dicapai dalam waktu singkat relatif terhadap bintara atau perwira. Ketika terjadi kondisi gawat darurat, jumlah tamtama sangat mudah untuk diperbesar lewat conscription, tapi ingat, tamtama itu porsi besar jumlah pasukan, sehingga terus-terusan melakukan wajib militer menyeluruh dari perwira hingga tamtama akan menyekik anggaran negara. Apalagi pada konteks Indonesia pada waktu itu yang memang tidak bisa dibilang bagus kondisi keuangannya.
Indonesia tetap bisa punya banyak pasukan hanya dari tentara sukarelawan (tentara profesional, bukan hasil draft/konskripsi), sehingga tidak ada faedah bagi Indonesia untuk memberlakukan wajib militer.
S
ATM

View more

+1 answer in: “min ATM mau nanya-nanya tentang menwa boleh ya. katanya anggota menwa itu tercatat sebagai komponen pertahanan cadangan negara, emang bener? artinya misal ada kejadian perang, anggota menwa juga turun ngebantu anggota TNI buat tempur?”

Jadi pemikiran mimin pedro sama aku bisa dianggap sama apa nggak? Agama ada karena manusia takut kematian?

Dede Jainadin
Salah satunya, iya.
-pedro

View more

+1 answer in: “Aku muslim tapi saya ragu sama tuhan.aku sekarang berfikir,kalo misal aku mati terus ternyata neraka sama surga itu ga ada,berarti aku hilang dan ga bisa ngerasain apapun. Nah apa ini mungkin yang jadi alasan orang dulu menciptakan tuhan karena ketakutannya akan kegelapan setelah kematian?”

aku sama pacarku beda agama tp aku sebenernya agnostik alias ngga ada iman sama religion background ku . ku jg ngga keberatan kl harus ikut agama dia apakah hubungan ku sama dia akan sulit seperti yg lain yg beda agama ?

Komunikasi dengan partnermu. Selama partnermu tidak keberatan dengan keyakinanmu dan dapat menerima perbedaan, maka seharusnya tidak ada masalah dalam urusan keyakinan. Kunci nya itu komunikasi, karena bahkan yang seiman sekalipun juga bisa memiliki masalah keyakinan jika tidak berkormunikasi.
-pedro

View more

Aku muslim tapi saya ragu sama tuhan.aku sekarang berfikir,kalo misal aku mati terus ternyata neraka sama surga itu ga ada,berarti aku hilang dan ga bisa ngerasain apapun. Nah apa ini mungkin yang jadi alasan orang dulu menciptakan tuhan karena ketakutannya akan kegelapan setelah kematian?

Dede Jainadin
Coba kita belajar dari agama buddha. Jasmani manusia menurut agama buddha adalah sebuah kesengsaraan yang mesti dibatalkan, dibunuh supaya terjadi reinkarnasi (penjelmaan). Jadi menurutku, ya, manusia itu takut akan kematian sehingga menciptakan sebuah konsep seperti "roh" dimana dirinya dapat menjadi makhluk yang lebih baik.
-pedro

View more

+1 answer Read more

Buat mimin pedro aku mau tanya... Menurut pedro sendiri apa alasan di balik awal mulanya lahirnya sebuah agama?apa alasan kok bisa ada agama?makasih

Dede Jainadin
Zaman dahulu (dan sepertinya zaman sekarang juga) agama itu berdampingan dengan politik. Itu artinya, agama juga dapat mempengaruhi/dipengarahui pemerintahan. Namun, peraturan agama itu biasanya lebih efektif karena hukuman agama lebih berat dan lebih kekal seperti neraka atau reinkarnasi.
-pedro

View more

Kalian yg angostik masih ragu sama agama2 yg ada tp pandangan mu terhadap ajaran budha bagaimana? Budha lebih menitikberarkan isu2 humanisme, tidak pada konsep ketuhanan yg personal (seperti agama2 abrahamatik) dan superior, tapi lebih universe.

Disclaimer: saya nggak pernah mempelajari budisme sedalam islam/kristen.
Pandangan pribadi saya, agama buddha juga memiliki beberapa aspek yang sulit diterima seperti konsep reinkarnasi dan ajaran2 yang sifatnya represif terhadap 'kodrat' manusia.
Saya tidak bisa melihat kalau semua orang melepas diri dengan ikatan duniawinya, dunia akan menjadi lebih baik.
Tapi kalau menurutmu itu cocok denganmu, ya lakukan saja. Tidak masalah selama kamu tidak memaksa orang lain.
Oracle

View more

apakah km setuju kl generasi saat ini cenderung lebih toleran ? soalnya kebanyakan yg teriak kofar kafir itu orang dewasa temen2ku mayoritas tidak peduli sama salah satu yg murtad , dan masih berteman baik

Lebih toleran mungkin nggak, lebih tepatnya lebih terpolarisasi, rata-rata pada berkumpul di titik ujung.
Yang relijius makin vokal.
Yang liberal makin vokal.
Yang kiri makin vokal.
Yang ditengah relatif lebih diam.
Makanya banyak yang mengikuti ke titik-titik ujung tersebut.
Toleran sendiri sebenarnya kata yang relatif, toleran terhadap apa. Dulu judi bahkan sempat legal taun 60an. Islamisme ditekan zaman suharto.
Jadi ya, kalau dibilang tambah toleran nggak juga, lebih tepat kalau dibilang anak-anak muda jaman sekarang lebih vokal dan lebih variatif pandangan politiknya.
Oracle

View more

Maap min, batas luar angkasa kalo dari bumi kita kan ada di eksosfer. Jaraknya lebih dari 500 km. Kalo 100km mah di termosfer artinya masih dipengaruhi gravitasi. Jadi belum dikatakan luar angkasa ( no gravity )

Ada alasannya kenapa aku nyebut 100 km tapi tidak 500 km.
Bukan karena alasan gravitasi, karena pada 500 km juga dipengaruhi gravitasi. Bulan yang jaraknya 384 ribu kilometer juga terpengaruh gravitasi (ingat, mekanik orbit).
Alasan aku menyebut 100 km, adalah pada ketinggian tersebut, udaranya sudah sangat tipis, sehingga pada ketinggian tersebut, kecepatan yang diperlukan untuk menghasilkan gaya angkat yang cukup pada kebanyakan pesawat sudah sama dengan kecepatan orbitnya.
Walhasil, itulah mengapa kita sering menganggap 100 km sebagai batas luar angkasa, karena setelahnya, biarpun masih ada udara, dalam kondisi praktisnya sudah sangat tipis. Biarpun ya, karena tetap ada itu yang jadi masalah, seperti di kasus satelit GOCE (Gravity Field and Steady-State Ocean Circulation Explorer) yang memang di rancangannya harus dibuat lebih mulus dan terus menggunakan propulsi Ion.
Jadi ya, aku cenderung lebih berpikiran praktis sih.
S
ATM

View more

+1 answer in: “kak, lebih luas laut atau langit?”

If you could control every single aspect of someone's life (excluding your own), whose life would you want to control in the same way authors control the fates of their original characters? How would you make this person's life different?

Nefertiti K
I do not like control people, and even I have to, I do it out of necessity.
And even if it is for the "greater good" of that particular person, I try to limit it to the bare minimum, since I'm well aware that I'm not infallible.
I could make a bad decision, that's why I tend to allow certain degree of freedom just for the sake of flexibility. It won't be optimal, but it is safer to do so.
If I were to be given that sort of control to one person (and one person only), obviously I couldn't control people's reaction to any actions done by the person I'm controlling. If I judged that it is better for him/her to fight someone to death and he/she actually do it, it could solve his/her problem or make his/her problem even worse, as in, going to jail or something even worse.
That is not something I could live in peace, knowing that my bad judgment and decisions ruined someone's life for real, to the point of permanently damaging it, especially if it happens to someone I care a lot or even love.
And yes, it is quite personal for me.
S
ATM

View more

RUU PERMUSIKAN. GIMANA PENDAPAT KLEAN?????

http://learninghub.icjr.or.id/wp-content/uploads/2019/02/Draf-RUU-Permusikan-15-Agustus-20181.pdf
Masalah:
1) pertimbangan poin a "perekam nilai kehidupan..." dari situ sejatinya udah poin mengapa tidak perlu ada regulasi.
2) Pasal 4 poin 1, parameternya apa? Poinnya terlihat "keren" tapi karet. Lha wong masyarakat sini begitu beda mahzab saja sudah dibilang menista, ulama macam Quraish Shihab dibilang sesat.
3) Pasal 5, biarpun beberapa poinnya aku relatif setuju, tapi inipun juga masih karet. Satu poin yang aku masih belum bisa sepaham itu poin f, membawa pengaruh negatif budaya asing. Apa parameternya?
4) Pasal 19?
Ini jujur aku langsung tertawa mengingat ini adalah salah satu bentuk dari rasa "minder" orang-orang DPR yang ironisnya juga mirip dengan rasa "minder" banyak orang Indonesia. Kalau kalian pemain Dota dan ingat GESC Jakarta kemarin, fakta bahwa ada fase kualifikasi Indonesia sudah cukup menggambarkan. Kita pengen tampil, pengen dilihat "INI INDONESIA, HEBAT KAN?" tapi sedari awal sudah tidak berani bersaing. Dan ya, ini mental "tuan rumah". Intinya orang DPR juga aslinya gak percaya sama kualitas musisi orang Indonesia.
5) Pasal 20 dan 21
Aslinya tidak masalah kecuali kalau tetiba ada kewajiban untuk uji kompetensi. Coba bayangkan kalau ada pujangga dengan gaya puisi mirip Chairil Anwar dianggap tidak kompeten berpuisi karena tidak mirip puisi-puisi senja ramalan cuaca macam bocah-bocah edgy sok filsafat?
Kurang lebih seperti itu, yang ternyata bakal jadi masalah karena...
6) Pasal 31, 32, 33
Dalam hati sudah teriak...
JANCOK!
KOMPETENSI MBAHMU TA COK?
7) Pasal 42
Nek kon kate takon awakku dewe, aku sak jane seneng ae karo musik-musik Jawa. Nanging, pantes ta cok nyetel koplone Cak Diqin nang restoran Cino? Moro-moro mangan siobak (babi) nang Gang Djangkrik krungune "Duh denok gandulaning ati, tegane nyulayani". Saru cok.
8) Pasal 50
Sama dengan pasal 5. Mempidana orang pakai dasar yang ngaco.
9) Pasal 51
Sertifikasi lagi...
---
Jujur saja cara mereka melindungi musik tradisional ini juga cara sampah.
Afirmasi itu cara sampah.
Kalau diberi panggung, ruang dsb, itu gapapa. Tapi memaksa orang lain untuk mendengarnya, itu sampah. Walhasil, musik yang dihasilkan juga sampah, yang mendengar juga merasanya sampah.
Makanya aku tidak masalah dengan pasal 7 poin kedua, karena poinnya mengembangkan. Tapi kalau sudah jadi pemaksaan, itu sampah, yang ada malah menimbulkan kesan bahwa musik tradisional itu musik penindasan.
Padahal kalau mereka cerdas sedikit, ada musik populer di awal akhir dekade kemarin seperti:
https://www.youtube.com/watch?v=_P7dHL_6qNU
Atau, lebih lawas lagi:
https://www.youtube.com/watch?v=43QwWJdH4o4
Musik gak bisa dipaksa. Musisi jangan pernah dipaksa.
S
ATM

View more

kak, lebih luas laut atau langit?

Langit.
Secara luas penampang, laut cuma seluas permukaan bumi dikurangi luas permukaan daratan. Sementara itu, penampang langit, itu kalau diukur dari garis batas langit dan luar angkasa (dari ketinggian 100 km di atas permukaan bumi) jelas tidak ada pengurangan. Plus, karena diameternya lebih besar, walhasil luas permukaannya juga lebih besar.
Kalau secara volumetrik (karena biarpun kamu menyebut luas, aku juga mau memastikan agar kamu tidak bisa terlalu memelintirnya), kedalaman terdalam laut itu cuma 10 km, sementara batas luar angkasa itu 100 km di atas permukaan laut.
Otomatis secara volume juga lebih besar langit dong.
S
ATM

View more

+1 answer Read more

min ATM mau nanya-nanya tentang menwa boleh ya. katanya anggota menwa itu tercatat sebagai komponen pertahanan cadangan negara, emang bener? artinya misal ada kejadian perang, anggota menwa juga turun ngebantu anggota TNI buat tempur?

Secara teknis iya, biarpun di saat yang sama juga tetap dianggap sebagai komponen sipil.
Dalam artian begini, Menwa itu secara praktis sipil yang terlatih, yang sejatinya di bawah pihak universitas masing-masing. Akan tetapi, pembinaannya sebagai komponen cadangan negara merupakan tanggung jawab kementrian pertahanan.
Sehingga, Menwa tidak bisa asal ditugaskan ke medan perang. Selain karena kapabilitas Menwa yang memang masih jauh di bawah TNI organik (TNI aktif), status mereka juga sipil. Tentara tewas itu sudah jadi polemik sendiri, apalagi kalau "tentara" yang dimaksud kebetulan mahasiswa. Respon ke TNI bisa lebih keras lagi, ya karena mahasiswa.
Kalaupun memang Menwa perlu diterjunkan perang, kondisinya lebih mirip "kalau" NKRI diserang habis-habisan. Penumpasan pemberontak juga tidak cukup sebagai alasan penerjunan Resimen Mahasiswa.
Jadi ya, secara praktis Resimen Mahasiswa itu orang sipil biasa. Akan tetapi, faktor pernah menerima pendidikan jelas nilai plus ketika benar-benar terjadi pertempuran.
Sebagaimana seniorku pernah berteriak waktu melatih siswa diklatsarmil:
"KALIAN BUKAN TENTARA!"
S
ATM

View more

+1 answer Read more

Tetep aja lah orang bisnis harus misahin harta pribadi dengan harta perusahaan, jadi dia ngegaji dirinya sendiri.

Kalau kamu definisikan spt itu bener sih. Cuma kalau kamu tanya sama orang yang punya usaha, mereka pasti ngerasa aneh kalau ditanya 'gaji kamu berapa?', bakal lebih tepat kalau kamu tanya omzet atau keuntungan bersih.
Kecuali kita ngomongin perusahaan yang terstruktur rapi yang ada CEO dan semacamnya, soalnya yang udah rapi begitu terikat sama macem-macem aturan perusahaannya sendiri.
Oracle

View more

+4 answers in: “Kak gimana caranya seorang mahasiswa baru di sebuah PTN bisa memiliki penghasilan minimal Rp30 juta/bulan, sambil tetap aktif di dua unit kegiatan mahasiswa dan mendapat IPK di atas 3,51 serta bisa lulus dalam delapan semester?”

Thoughts on age of consent?

I think it is a form of "standardization" on minimum permissible age for sexual activities in terms of legal issues.
And there's a reason why I use "standardization" to describe it.
Let's say we make a law, and word it this way:
"Any person who do sexual activities on underage person or those who has no prior understanding on what entails sexual activities shall be punished by 15 years of prison"
If we have to go case-by-case on every single underage sex cases, it is going to take a lot of time and resources to do so. That means on every trials we need to have a psychologist or even psychiatrist to determine whether the kid actually understand what the heck is going on. The professionals might have different conclusions on each cases.
Even if they have "Piaget's theory of cognitive development" to base their conclusion, the same theory still implies that child cognitive development can be either accelerated or delayed due to numerous cases. It could be due to their own upbringing, their social interactions to other people and so on.
It is floppy at best, and anyone who read it might have different interpretation than what the judges might say.
So let's say that we re-word the law to this:
"Any person who do sexual activities on person under 18 years old shall be punished by 15 years of prison"
Anyone who read it will know exactly what must not be done. It saves a lot of time if there's any case of it being put forward to trials.
It might seem arbitrary at best, but bear with me, determining the age of consent itself requires a great understanding on the most common pattern in that particular region, including the social norms and common practices. Determining that requires a consensus of a lot of experts. Once they agree on a particular number, then that's it.
Basically, that's why we have "age of consent". We need to have a practical guideline that still conforms to the most common cases in the region.
S
ATM

View more

Min, Gw muslim. Tapi ragu sama hal-hal ghaib. Then, gw sedikit bikin percobaan. Gw moto satu spot yang sama kemudian gw share ke beberapa temen gw yang katanya sih "indigo" gw jujur rada skeptis. Hasilnya mereka ngelihat hantu dengan bentuk sama di foto itu. Mereka ini gak kenal satu sama lain.Wdyt?

Deskripsi mereka seperti apa btw?
Coba lakukan lagi, tapi kamu selfie, terus tanya ke mereka dan mereka tidak boleh sadar kamu mau tanya masalah hantu.
Terus coba catat jawaban mereka satu per satu.
Kalau jawabannya ngambang biarpun sama alias terlalu umum, ulangi lagi.
S
ATM

View more

But, why we should worry about language deaths especially in this context is regional/local language? While we already have Indonesian (bahasa Indonesia) as our unity language. Does using bahasa Indonesia as our (real) official language is not enough yet?

Did I mention that we should make local languages as official languages?
No. I was talking about how you guys uses "Bahasa Indonesia" as a means of asserting your perceived superiority to those who don't speak it.
And to that extent, accents.
And ironically, that also happens to some of us who perceive that inability to speak in English as a form of inferiority.
Ironically, that also happens to some of us who do the same to Arab.
Ironically, that also happens to some of us who do the same to Chinese.
Also, back in 2012, I do remember that most of stories featured on UNAS was in pretty much Riau Malay or proto-Indonesian to be precise. I remember it perfectly that the rest of my class simply worried about their mark just because of that stuff.
Now, since Flores is basically a home of tons of orally passed traditions, language death means cultural death. Congratulations, you just remove thousands of years worth of traditions.
I hardly call that as unity. I prefer to call that as assimilation. Seems innocent, how about subjugation instead?
I don't think "Bhineka Tunggal Ika" translates as that. Which diversity do we have if we remove it one by one? Either deliberately or accidentally.
S
ATM

View more

+1 answer in: “Random thoughts 📝”

Random thoughts 📝

fadhilah nuridin
So basically, I've been watching a particular language channel in Youtube for days. Today, I watched one video about "language death".
So, what is language death you may ask.
It's simple, when a language is no longer known, or simply has no native speaker, in some cases added by having no second-language speaker.
So how a language dies out?
Most commonly it happens due to "gradual language death". In short, it happens slowly over a course of time. Imagine this, there are two languages being spoken on the same region. One is the native language, the second is a "prestige language" or a language that is believed to be more prestigious, either due to social classes and stuffs. Over a period of time, the native language being spoken less due to gradual shift in perception that their own language is "barbaric" in nature, or perhaps being reinforced to think so.
It strikes me a bit since we, Indonesian, are experiencing it. Most commonly it happens to eastern part of Indonesia, but Javanese itself is not immune to that.
I've seen a lot of cases people mocking another people from different part of Indonesia due to language and accents. Some even consider them as "kampungan" due to that reason only.
Instead of using Indonesian as a symbol of unity, some people treated it as a symbol of dominance.
I remember few years ago that Jokowi receive a lot mocking due to his thick Javanese accent. Is it already a taboo to have an accent? Do we have to follow your accent to be accepted?
No wonder we as a nation have a lot of endangered languages to begin with.
S
ATM

View more

+1 answer Read more

Apa yang akan kamu lakukan jika melihat temanmu nyontek saat ujian?

ordinary girl
Pada titik itu, rasanya aku terlalu fokus pada ujian hingga aku lebih sering tidak tahu kalau teman lagi menyontek.
Mata di kertas ujian, bukan di teman.
Alasannya:
1) Materi banyak yang memang menguras pikiran
2) Kalaupun tidak menguras pikiran, biasanya aku selesaikan lebih cepat antara untuk dikumpulkan terlebih dahulu supaya bisa keluar, atau sekadar tidur di kelas.
Oleh karena itu, biasanya aku tahu teman-teman menyontek setelah ujian selesai. Bahkan waktu UNAS sekalipun, teman-temanku banyak yang menyontek dan itupun aku juga tahunya setelah ujian.
Kalaupun aku tahu mereka menyontek tepat pada ujian tersebut, kembali ke alasan-alasan di atas, aku masih tetap fokus di ujian.
Dan biasanya aku juga gak lapor ke guru, biarpun aku juga gak membantu mereka saat ujian (ingat, saat ujian).
Itu sebabnya waktu SMP ketika salah satu guruku menuduh aku menyontek, beberapa temanku (yang simpati) malah membela diriku, tapi ada juga yang jengkel dengan diriku karena aku tidak mau menconteki mereka.
S
ATM

View more

Next