Ask @inahafizha:

Kok kemarin pas puasa diajak bukber ga dateng?

Puasa ramadhan tahun ini bertepatan dengan kesibukanku sebagai mahasiswa. Sibuk dengan kegiatan kuliah dan kepanitiaan. Kebetulan aku bergabung dengan kepanitiaan ospek jurusanku, yang tentu lebih merepotkan dibanding ospek universitas. Rapat setiap hari, begadang demi kelancaran sebuah acara. Survey sana-sini, mengumpulkan uang untuk membantu divisi dana usaha. Belum ditambah kuliah yang dimulai dari pagi sampai sore, ibarat mulai sunrise, pulang sunset. Belum lagi ditambah praktikum di lab, membuat laporan, dsb.
Buka bersama ramadhan tahun ini diadakan dari teman SD, SMP, SMA, angkatan kuliah. Dan aku hanya menghadiri buka bersama dari SMA dan angkatan kuliah karena waktu yang berlangsung tepat ketika aku sudah mulai tidak terlalu sibuk. Lagi pula aku tidak melihat begitu banyak benefit dari kegiatan buka bersama itu sendiri. Bahkan, buka bersama yang diadakan teman yang dulunya sangat agamis saja sampai menunda shalat isya dan tidak tarawih. Setelah buka bersama, bercengkrama bersama, tertawa sana-sini, gosip sana-sini perihal mantan, atau topik pembicaraan yang sama sekali tidak bermanfaat, merokok di depan orang yang masih menyantap makanan, foto bersama tanpa mengenal waktu, sampai larut malam. Tidak shalat isya, tidak tarawih, atau barangkali shalat isya nya ditunda sampai waktu sahur tiba. Lalu apa itu dapat disebut silaturahmi jika sampai meninggalkan kewajiban? Malu sama Allah, ah. Semakin dewasa aku harus pintar memilah kegiatan buka bersama mana yang tidak meninggalkan kewajiban, cukup.

View more

lebih bahagia masa kecil atau masa sekarang ini ?

Masa kecil.
Pertama, masalah finansial. Masa kecil tidak perhitungan seberapa uang yang telah dikeluarkan. Childhood just childhood. Makan tinggal makan, jajan tinggal jajan. Dibeliin, dibayarin oleh orang tua. Just simple as that. Walaupun masa kecil tidak menyimpan uang sendiri alias disimpenin orang tua. Sekarang? Boro-boro. Dikasih uang, harus bisa manage by myself not themselves. Harus tahu mana sesuatu yang prioritas untuk dibeli dan tidak, harus semakin pintar mengatur seberapa uang yang dibeli untuk sesuatu yang bermanfaat. Karena prioritas di masa sekarang lebih banyak, jadi harus mengerti kondisi keuangan keluarga. Tidak boleh uang digunakan sekedar hura-hura, sekedar senang-senang.
Kedua, beban pikiran. Masa kecil mana ada beban pikiran? Ketawa sana, ketawa sini, main dengan teman tanpa mengenal waktu, tanpa harus memikirkan waktu ke depan digunakan untuk apa dan untuk siapa. Di masa sekarang harus pandai mengatur waktu, setelah ini akan melakukan apa, bermanfaat atau tidak. Walaupun aku sendiri sebenarnya masih sangat sering menggunakan waktu untuk hal-hal yang jauh dari kata manfaat. Percayalah, diriku masih perlu banyak belajar.
Kurang lebih seperti itulah perbedaannya.

View more

apa yang kamu lakukan jika badmood ?

Makan, nonton, tidur, baca wattpad, mendengarkan lagu, mengobrol dengan bunda.
By the way guys, kalian pernah merasa menjadi orang yang paling sendiri? Kalau pernah apa yang kalian lakukan? Kalau aku, melakukan hal-hal di atas yang tadi aku sebutkan. Kadang itu pun masih kurang, aku merasa masih sendiri. Aku tahu bahwa masih ada Allah yang selalu menjagaku, berada di sisiku, dan aku yakin Allah tidak akan meninggalkan hambaNya. Tapi manusiawi bukan kalau kita sebagai manusia terkadang khilaf, lupa akan selalu ada Allah di sisi kita dan kita masih sering mengutamakan hal-hal berbau dunia? Iya, manusiawi.
Semakin dewasa, semakin tahu mana yang harus dijadikan prioritas dan tidak. Aku pun, masih sering melakukan hal-hal yang tidak masuk dalam ranah prioritasku. Menangisi orang yang dulu dekat denganku dan sekarang dia menjauh bersama yang lain, contohnya. Apakah menangis karena orang lain terlihat begitu bodoh? Mungkin. Tergantung orang yang kita tangisi itu siapa?
Setelah menjadikan orang tersebut prioritas utama, belum tentu dia pun menjadikan kita prioritas utama pula. Mati-matian aku mengutamakan orang itu, tapi di sisi lain dia melakukan hal yang sangat berbalik dari apa yang aku lakukan. Sampai pada akhirnya aku jenuh, aku melakukan hal yang sama. Aku melakukan layaknya orang biasa yang tidak begitu peduli antar satu sama lain. Dan herannya, ketika aku melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepadaku, dia sakit hati, iri, merasa sedih. Apakah cermin di dunia memang diciptakan dalam jumlah yang sangat sedikit sehingga dia lupa akan cara bercermin? Entah. Pusing rasanya memikirkan hal-hal sepele yang dibuat rumit seperti ini. Aku hanya berharap semoga segera ada cermin yang menghampiri dia dengan cuma-cuma sehingga dia dapat bercermin puas dan mengatakan bahwa dirinya tidak sepenuhnya benar.

View more

Curhatan yuk

Semakin bertambah umur, semakin dewasa, semakin tahu bahwa pada akhirnya hidup itu kita sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Sehingga kita tidak perlu terus bergantung kepada orang lain seperti dulu. Ada kalanya kesendirian membawa rasa tenang dan berkurangnya rasa berharap. Bahkan orang yang sejak awal sangat dekat dengan kita pada akhirnya akan pergi. Entah karena alasan mulai jenuh atau memang dari awal bergaul dilakukan dengan terpaksa?
Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk seperti yang kita mau. Kita tidak harus menjadi orang lain untuk diingat. Kita tidak perlu mengemis rasa peduli untuk diperhatikan. Kita dapat berjalan sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Kita yang menentukan kebahagiaan diri kita sendiri, bukan orang lain.
Teruntuk orang yang 'mungkin' tidak bermaksud melupakan tapi terkesan 'melupakan' , terimakasih. Segala perbuatan yang dilakukan selalu ada balasannya bukan? Semoga Tuhan masih berbaik hati supaya kamu tidak mengalami hal yang sama.

View more

Kalau dikasih kesempatan buat memperbaiki suatu hal, kamu memilih hal apa saja?

Hal dalam memilih lingkungan yang tepat. Aku sudah merasakan perbedaan yang sangat jauh ketika aku bergaul dengan orang tipe A sampai tipe Z. Dan pada akhirnya aku sadar, tidak perlu menjadi orang lain untuk terlihat sempurna, untuk hanya berteman dengan orang tipe A maupun Z. Toh pada hakikatnya kelak manusia akan berjalan sendiri-sendiri ke liang kubur dengan segala amal yang telah ia perbuat di dunia, dengan mempertanggungjawabkannya.

View more

Apa si yang membuat kamu bertahan sama kamu?

Tanggung jawab dan komitmen. Kalau bukan karena dua hal itu, aku sudah mundur dari awal. Aku sudah melakukan semampunya, walaupun tau pandangan sebelah mata dari pihak lain terus menghampiri ketika masalah itu ada. Sebagian lainnya memahami, tetapi tidak akan mengerti perasaan dan konflik sesungguhnya di dalam sini, konflik dengan kedua orang yang telah berjasa tanpa adanya pamrih, konflik dengan kedua orang yang telah menunaikan tugasnya dimana kelak akan dimintai pertanggungjawaban di dunia maupun di akhirat.

View more

+1 answer Read more
Next