Ask @inahafizha:

Seberapa hedon kah dirimu?

Definisi hedon tuh gimana sih? Yang suka gonta ganti sepatu, hp, baju, dan sering nongki-nongki di kafe? Apa gimana? Yang suka makanan dan minuman mahal trus ga level sama makanan warteg?
Dulu pas SMA aku sering banget nongki-nongki, makan-makan, minum-minum. Memang sekolahku berada di kota dan sangat strategis karena dikelilingi warung kuliner maupun fashion store. Setiap hari Jumat lho aku ke KFC, itu pas kelas 10. Pulang sekolah kadang ke Koki Joni, makan pasta. Gimana ga, tempatnya cuma sebrangan sama sekolahku. Ke selatan dikit ada Mcd, ke sana juga kadang. Sampai pada akhirnya ada di fase bosan, titik jenuh. Kelas 11 sama sekali ga ke KFC karena sebosan itu. Trust me, aku sampai hafal menu-menu dan harganya di KFC.
Sekarang? No. Ketika kuliah aku justru semakin hemat. Bukan terbilang hemat juga sih, tapi uangnya lebih banyak dipakai untuk kebutuhan praktikum, laporan, bayar iyuran, kepanitiaan, dsb. Dan semakin dewasa jadi semakin mengerti betapa susahnya cari uang. Lihat orang tua yang capek kayak gitu kerjanya buat biayain aku kuliah, aku jadi mikir dua kali untuk habisin uang buat sekedar senang-senang. Ga tega aja gitu. Dan bodohnya kenapa aku ga mikir dari dulu SMA ya? Telat banget kalau sekarang mah. :") Kalau dari dulu kan uangnya bisa ditabung, aku jadi bisa beli keperluan sendiri tanpa minta lebih ke orang tua.
Aku anak kedua dari empat bersaudara. Selisih umur kami tidak jauh, jadi bisa kebayang kan betapa repotnya bapakku biayain sekolah untuk anak-anaknya? Tiga dari kami kuliah semua, dan yang terakhir masih SMP di sekolah swasta boarding school. Alhamdulillah, masih diberi rezeki yang cukup.
Kadang suka nolak diajak teman ke sini, ke sana, makan di kafe, nongkrong di tempat mahal, nonton, dan diajaknya sering gitu. Gimana ya, ga enak nolak sih sebenarnya. Cuma ya gimana lagi, masa mau maksain? Aku suka ga tega gitu, mikir, misal aku senang-senang, main, ketawa-ketawa, boros, di sisi lain bapakku, ibukku lagi kerja, cari nafkah untuk biaya anak-anaknya. Jahat banget ga sih kalau kita dengan enaknya habisin uang untuk hal-hal yang kurang bermanfaat? Beda cerita kalau uang yang didapetin dari hasil kerja sendiri, atau beasiswa, atau menang lomba. Lah kalau masih minta orang tua?
Aku tuh ga papa kok diajak ke tempat gituan, tapi sesekali. Ga sering, ga setiap hari. Da aku mah apa atuh, bukan orang kaya. Aku juga ga miskin, tapi sederhana. Jadi tolonglah, bedakan pelit dan hemat. Bedakan hedon dan prioritas. Bedakan miskin dan sederhana.

View more

Kok kemarin pas puasa diajak bukber ga dateng?

Puasa ramadhan tahun ini bertepatan dengan kesibukanku sebagai mahasiswa. Sibuk dengan kegiatan kuliah dan kepanitiaan. Kebetulan aku bergabung dengan kepanitiaan ospek jurusanku, yang tentu lebih merepotkan dibanding ospek universitas. Rapat setiap hari, begadang demi kelancaran sebuah acara. Survey sana-sini, mengumpulkan uang untuk membantu divisi dana usaha. Belum ditambah kuliah yang dimulai dari pagi sampai sore, ibarat mulai sunrise, pulang sunset. Belum lagi ditambah praktikum di lab, membuat laporan, dsb.
Buka bersama ramadhan tahun ini diadakan dari teman SD, SMP, SMA, angkatan kuliah. Dan aku hanya menghadiri buka bersama dari SMA dan angkatan kuliah karena waktu yang berlangsung tepat ketika aku sudah mulai tidak terlalu sibuk. Lagi pula aku tidak melihat begitu banyak benefit dari kegiatan buka bersama itu sendiri. Bahkan, buka bersama yang diadakan teman yang dulunya sangat agamis saja sampai menunda shalat isya dan tidak tarawih. Setelah buka bersama, bercengkrama bersama, tertawa sana-sini, gosip sana-sini perihal mantan, atau topik pembicaraan yang sama sekali tidak bermanfaat, merokok di depan orang yang masih menyantap makanan, foto bersama tanpa mengenal waktu, sampai larut malam. Tidak shalat isya, tidak tarawih, atau barangkali shalat isya nya ditunda sampai waktu sahur tiba. Lalu apa itu dapat disebut silaturahmi jika sampai meninggalkan kewajiban? Malu sama Allah, ah. Semakin dewasa aku harus pintar memilah kegiatan buka bersama mana yang tidak meninggalkan kewajiban, cukup.

View more

lebih bahagia masa kecil atau masa sekarang ini ?

Masa kecil.
Pertama, masalah finansial. Masa kecil tidak perhitungan seberapa uang yang telah dikeluarkan. Childhood just childhood. Makan tinggal makan, jajan tinggal jajan. Dibeliin, dibayarin oleh orang tua. Just simple as that. Walaupun masa kecil tidak menyimpan uang sendiri alias disimpenin orang tua. Sekarang? Boro-boro. Dikasih uang, harus bisa manage by myself not themselves. Harus tahu mana sesuatu yang prioritas untuk dibeli dan tidak, harus semakin pintar mengatur seberapa uang yang dibeli untuk sesuatu yang bermanfaat. Karena prioritas di masa sekarang lebih banyak, jadi harus mengerti kondisi keuangan keluarga. Tidak boleh uang digunakan sekedar hura-hura, sekedar senang-senang.
Kedua, beban pikiran. Masa kecil mana ada beban pikiran? Ketawa sana, ketawa sini, main dengan teman tanpa mengenal waktu, tanpa harus memikirkan waktu ke depan digunakan untuk apa dan untuk siapa. Di masa sekarang harus pandai mengatur waktu, setelah ini akan melakukan apa, bermanfaat atau tidak. Walaupun aku sendiri sebenarnya masih sangat sering menggunakan waktu untuk hal-hal yang jauh dari kata manfaat. Percayalah, diriku masih perlu banyak belajar.
Kurang lebih seperti itulah perbedaannya.

View more

apa yang kamu lakukan jika badmood ?

Makan, nonton, tidur, baca wattpad, mendengarkan lagu, mengobrol dengan bunda.
By the way guys, kalian pernah merasa menjadi orang yang paling sendiri? Kalau pernah apa yang kalian lakukan? Kalau aku, melakukan hal-hal di atas yang tadi aku sebutkan. Kadang itu pun masih kurang, aku merasa masih sendiri. Aku tahu bahwa masih ada Allah yang selalu menjagaku, berada di sisiku, dan aku yakin Allah tidak akan meninggalkan hambaNya. Tapi manusiawi bukan kalau kita sebagai manusia terkadang khilaf, lupa akan selalu ada Allah di sisi kita dan kita masih sering mengutamakan hal-hal berbau dunia? Iya, manusiawi.
Semakin dewasa, semakin tahu mana yang harus dijadikan prioritas dan tidak. Aku pun, masih sering melakukan hal-hal yang tidak masuk dalam ranah prioritasku. Menangisi orang yang dulu dekat denganku dan sekarang dia menjauh bersama yang lain, contohnya. Apakah menangis karena orang lain terlihat begitu bodoh? Mungkin. Tergantung orang yang kita tangisi itu siapa?
Setelah menjadikan orang tersebut prioritas utama, belum tentu dia pun menjadikan kita prioritas utama pula. Mati-matian aku mengutamakan orang itu, tapi di sisi lain dia melakukan hal yang sangat berbalik dari apa yang aku lakukan. Sampai pada akhirnya aku jenuh, aku melakukan hal yang sama. Aku melakukan layaknya orang biasa yang tidak begitu peduli antar satu sama lain. Dan herannya, ketika aku melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepadaku, dia sakit hati, iri, merasa sedih. Apakah cermin di dunia memang diciptakan dalam jumlah yang sangat sedikit sehingga dia lupa akan cara bercermin? Entah. Pusing rasanya memikirkan hal-hal sepele yang dibuat rumit seperti ini. Aku hanya berharap semoga segera ada cermin yang menghampiri dia dengan cuma-cuma sehingga dia dapat bercermin puas dan mengatakan bahwa dirinya tidak sepenuhnya benar.

View more

Curhatan yuk

Semakin bertambah umur, semakin dewasa, semakin tahu bahwa pada akhirnya hidup itu kita sendiri yang menentukan, bukan orang lain. Sehingga kita tidak perlu terus bergantung kepada orang lain seperti dulu. Ada kalanya kesendirian membawa rasa tenang dan berkurangnya rasa berharap. Bahkan orang yang sejak awal sangat dekat dengan kita pada akhirnya akan pergi. Entah karena alasan mulai jenuh atau memang dari awal bergaul dilakukan dengan terpaksa?
Kita tidak bisa menuntut orang lain untuk seperti yang kita mau. Kita tidak harus menjadi orang lain untuk diingat. Kita tidak perlu mengemis rasa peduli untuk diperhatikan. Kita dapat berjalan sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Kita yang menentukan kebahagiaan diri kita sendiri, bukan orang lain.
Teruntuk orang yang 'mungkin' tidak bermaksud melupakan tapi terkesan 'melupakan' , terimakasih. Segala perbuatan yang dilakukan selalu ada balasannya bukan? Semoga Tuhan masih berbaik hati supaya kamu tidak mengalami hal yang sama.

View more

apa yang lebih menakutkan (liburan gaada uang/ liburan tapi gaada teman)?

Yang lebih menakutkan adalah ketika kita terwarnai karena orang lain dalam hal negatif. Ternyata aura positif maupun negatif dari orang lain sangat mudah menyatu pada diri kita. Dan aku sekarang sedang merasakan aura negatif, ini sangat berbahaya.
Apakah aku harus menghindar?

View more

Kalau dikasih kesempatan buat memperbaiki suatu hal, kamu memilih hal apa saja?

Hal dalam memilih lingkungan yang tepat. Aku sudah merasakan perbedaan yang sangat jauh ketika aku bergaul dengan orang tipe A sampai tipe Z. Dan pada akhirnya aku sadar, tidak perlu menjadi orang lain untuk terlihat sempurna, untuk hanya berteman dengan orang tipe A maupun Z. Toh pada hakikatnya kelak manusia akan berjalan sendiri-sendiri ke liang kubur dengan segala amal yang telah ia perbuat di dunia, dengan mempertanggungjawabkannya.

View more

Next