Ask @ohsnapitsguido:

Mana yang lebih penting - dicintai atau jatuh cinta?

This doesn't add up! Dari opsi kedua, pertanyaan antum mengejawantahkan kalo antum prefer pilih orang yang antum kasihi tapi ga mengasihi antum kembali. Bener-bener pilihan yang ga mungkin bin mustahil, unless you're going to force yourself ke orang lain. That's reprehensible!
Di opsi pertama, juga sama aja. Sama-sama cacat opsi kalo antum pilih seseorang yang mengasihi antum, tapi, ironinya, antum ga mengasihi orang tersebut sebagaimana orang tersebut mengasihi antum. Jadi, IMO, exploiting an imbalance dalam sebuah hubungan dan exploiting the other person's love.. also reprehensible!
Better instead to choose a life of solitude, lalu merenungkan ketidakmampuan antum untuk menciptakan hubungan yang berkeadilan dan belajar mencintai diri sendiri.

View more

i want to date someone but i'm not good with people and i'm scared that they will be bored of me

Friend, the thing about dating is that one of the core skills you need to develop is confidence in the knowledge that the people you date have complete freedom to change their mind about continuing to date, for any reason, at any time.
Life is complicated and quite often difficult. So it's not at all surprising that things change, sometimes dramatically, sometimes quickly, and sometimes quickly and dramatically.
I guess what I'm trying to say is that you need to make peace with the idea that a lot of it is out of your control, but that isn't a reason to not try. What makes successful relationships rewarding is in part the triumph over these sorts of adversities. Further to which, I find it helpful to keep in mind that often when a partner opts out of dating or a relationship, what they're opting out of is the potential future that they see for that partnership. It's not necessarily a critique specific to you (the classic, it's not you, it's the whole deal type situation). That said, there are always things that are worth learning through every failed attempt as well. And just sometimes it is possible that the problem is you. Just be aware of that.
Still not a reason to not try. IMHO, the only thing that is certain is that you will not get any better at dating if you don't date.

View more

That being said, you agree that revealing ones weaknesses sets him free for them?

Not quite, no.
That could be true if you were talking about some problems, issues, or secrets that were weighting on one's 'soul'. Talking about such matters usually sets people 'free', be it free from having to think about the matter alone or free from just being able to talk about the issue.
But revealing one's weakness doesn't mean those weaknesses aren't there anymore. Sure, the bond between two people that can share their weaknesses with each other is different and something quite nice, but the weaknesses themselves are still there. I don't know if I managed to properly explain my thoughts.
All in all, I think that one can reveal his weaknesses only to some special individuals and doing so improves their relationship, but they won't be free of their weaknesses just because they reveal them. They can be free from the pressure of having some weaknesses others shouldn't know and being afraid those weaknesses will be found tho.

View more

+1 answer in: “melupakan dulu baru memaafkan atau memaafkan dulu baru melupakan? dan knpa ?”

Dear ASKfellas. Singkat aja, dalam menjalani hubungan ada tipikal pasangan yang berkomitmen buat menghapus akun medsosnya demi menyelamatkan hubungan tersebut. Dalam beberapa kasus, malah ditemukan adanya keharusan buat hapus medsos demi menyelamatkan hubungan mereka. Apa kalian orang seperti itu?

I have held firm to the belief that any relationship that requires you to delete social media to work..
IS NOT WORTH KEEPING!
It shows a lack of trust and respect, as well as a desire to control and put limits on personal freedom -- all of which are dealbreakers for me.
The only exception I can think of is in the case of social media addiction affecting the quality of your relationship, that said, quitting social media should be a done willingly and while receiving therapy or a total lifestyle change and on the basis of improving yourself as well as your relationship. Anything else encouraged by your partner screams of selfish intent.

View more

Dari bbrapa jurnal penelitian yang gue baca, orang jahat nggak ada yang literally "jahat" secara genetis/diwariskan oleh genetik. Tapi state of mind gue jadi ada pikiran, gmana sama clan rothschild atau gak keluarga psikopat yng turun temurun? Amtara born evil atau created?

Mungkin kalian belum pada tau (mungkin juga udah ya(?), I don't exactly know) kalo trauma bisa bikin orang ngelakuin hal-hal yang kalian sebut 'jahat' itu. Those traumas obviously can make people resentful and revengeful. That's why it's said that you should not harm people because it's going to come back.
*what I mean by saying 'berbalik menyakiti' diatas bukan seperti the concept of karma, ya*
Kembali ke pembahasan tadi, hal-hal seperti loneliness, social isolation, rejection, etc etc, all can contribute to 'evil'. Me personally not sure if pure evil exists. Ga menutup kemungkinan ada berapa individu, dengan masa lalunya, punya masa kecil atau ngalamin masa kecil yang buruk terus gedenya mereka come out as narcissists and toxic personalities that hurt people.
Psycopaths are capable of leading normal lives. But once they are put in traumatic situations and there's a trigger from outside, their psycopathy can express itself.

View more

Do you think that cause and effect dominate how things play out in the world?

I do, if it's not 'dominate', then they at the very least play a huge part in how things play out.
Something I used to say a lot to a partner of mine was "I know your intentions were good but you have to understand that if you caused tremendous pain from what you did, your intentions don't matter as much, especially in comparison to the hurt person's feeling".
I think cause is important but effect is more important in cases where it's emotional, where someone got hurt and where the source of the pain has already stopped. But in things that are ongoing, I think the cause is more important because you have to get to the root of it all.

View more

melupakan dulu baru memaafkan atau memaafkan dulu baru melupakan? dan knpa ?

I'm not forgive-and-forget type of person, lho. Dalam artian, kalopun forgive-and-forget, itu juga liat-liat dulu siapa dia, apa bentukannya, apa kelakuannya atau apa ucapannya. Mengingat "I forgive you" merupakan barang mahal (at least, for me), jadi ga boleh sembarang maafin orang.
Some things are never forgivable. Forgive and forget. Sebenernya urang juga ga terlalu suka sama holding grudges cause this kind of negativity makes people bitter. I learned that you could say you forgive all you want, but when things happen, you just can't forget. Rasanya hampir ga mungkin deh buat ga nahan dendam, minimal nahan amarah, in some cases. But then for others, I guess love just wins.

View more

+1 answer Read more

jokowi tampil debat chill banget. liat prabowo yg bawaan nya emosional mulu serem. gak yakin org yg emosian bisa bijak ngambil keputusan dlm memimpin negara. Saya semakin yakin jokowi adalah pilihan yang terbaik

https://news.detik.com/berita/d-4490669/prabowo-marah-ke-penonton-debat-sandi-kedaulatan-masalah-serius?_ga=2.267335049.689488764.1553311523-2037788829.1500079894
Mundur dikit ke debat pilpres putaran keempat, Prabouo sempet marah soalnya kata uouo, penonton ngetawain pemaparan uouo tentang kedaulatan negara yang jadi topik debat waktu itu.
Buat kalian-kalian pendukung paslon 02, kasih tau tuh capres junjungan kalian, yang diketawain sama penonton waktu itu capresnya kali, bukan kedaulatannya. Lagian anggep diri udah tinggi banget kali ya sampe jadi representasi kedaulatan?
Delusion of grandeur.

View more

Mungkin mau bercocok tanam kurma + nimba air zam zam di belakang rumah kali yak

Debat pilres tahun 2009 juga pernah dibahas, Joosoef Kallya vs Beye ngomongin soal gandum. Urang pengen liat ada ga nih kira-kira Presiden RI yang mau stop impor gandum. Ntar harga Indomie naik pasti banyak yang maki-maki. Bakal ngakak, sih, kalo Prabouo jadi presiden stop impor gandum terus dimaki-maki umat 212 yang kelaperan.

View more

+2 answers in: “Prabsky: Kita tidak akan impor bahan makanan dari luar negeri ! *gue mendadak de javu dulu pilpres 2014 kek ada sosok lain yg ngampanyein hal serupa hmmm*”

bermula dri narasi: islami vs gak islami dipilkada dki, terlalu naif emg yg percaya klo dunia cuma ada hitam putih

Udah pasti yang urang salahin disini adalah elit-elitnya. Pada kedua kubu, demi menjaring suara, dengan gampangnya memakai narasi ini. Apalagi ini bukan perang. Cuma pilpres 5 tahunan, yang kalo kalah atau menang bisa diperjuangin lagi 5 tahun berikutnya. Apa elit-elit ini gak peduli impact-nya ke rakyat? Apalagi narasi "baik vs jahat" ini juga dikenain ke orang-orang golput seperti urang. Katanya kalo ga nyoblos, artinya urang jadi bystander. Diem aja ketika kejahatan sedang terjadi, ketika capres J atau P yang dipercaya jahat, bakal jadi presiden.
Such a guilt trip!
Apalagi yang bilang gitu malah liberal atau justru ateis(?) Terus apa bedanya dia sama orang-orang yang bilang kalo pilih kafir jenazahnya ga bisa dishalatin? Etapi jangan salah. Ateis pun bisa terjebak di narasi "baik vs jahat." Narasi unggulan dari kitab-kitab suci. Da urang mah ga mau ikut-ikut bukan karena urang bystanders yang ngediemin kejahatan yang sedang terjadi.
Banyak pertanyaan di benak urang, misalnya aja:
1) Apakah kalo capres J adalah jahat, berarti capres P otomatis baik? Pun vice versa? Kan engga.
2) Lantas, apa, sih, markers jahat dan baik? Apakah label kelompok adalah markers yang solid?
3) Kalo urang pilih capres J atau P, apakah urang disitu sedang mencegah kejahatan yang sedang terjadi? Serius? Tersanjung banget, tau, jadi pahlawan ahaha.
Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain. Imho, narasi ini udah kaya virus. Ngejangkitin banyak orang. Udah gitu langsung ditelan jadi kebenaran tanpa dipikir. Buat kedua pasangan capres, urang punya banyak contoh kasus buat nunjukin kalo mereka benernya ga baik-baik amat seperti yang dinarasikan oleh kubu masing-masing.
Jadi, narasi "baik vs jahat" di pilpres ini sebenarnya mentah. Bukan karena kebenaran, tapi untuk mendulang suara.

View more

+1 answer in: “Penyebutan elite2 bajingan itu bukan narasi tapi kemauan membebaskan diri dari pusaran kejahatan, mendikotomi rakyat menjadi 2 kelompok bajingan dan partisan itu narasi jahat.”

Penyebutan elite2 bajingan itu bukan narasi tapi kemauan membebaskan diri dari pusaran kejahatan, mendikotomi rakyat menjadi 2 kelompok bajingan dan partisan itu narasi jahat.

Pernah kepikiran ga, sih, kalian ini soal narasi "baik vs jahat" itu sebenernya narasi yang jahat? Urang bukannya bilang ga ada yang baik dan ga ada yang jahat. Baik dan jahat itu nyata. Tapi gimana ngebedainnya? Apakah bener "orang baik kumpul sama orang baik" alias birds with same feathers flock together?
Narasi ini dipake sama kedua kubu, tau. Kubu Prabouo percaya Jokowee itu emang antek asing aseng, pembual, keturunan komunis. Dan mereka percaya kalo Prabouo Sandy adalah dua orang baik. Di lain pihak, kubu Jokowee percaya kalo Prabouo itu jahat, antek orba, pendendam, dan emosional. Sementara Jokowee itu murah senyum, sederhana, baik hati, dan dizolimi lawan.
Artinya disitu kedua kubu sama-sama memakai narasi yang bisa memicu emosi voters? Bukankah narasi ini mirip sekali dengan narasi di kitab-kitab suci; kami vs kalian, suci vs bathil, tuhan vs setan, domba vs kambing.
Urang masih inget waktu pilkada DKI Jakarta. Urang coba untuk pake viewpoint orang-orang yang nyebarin propaganda "Yang pilih kafir jenazahnya tidak boleh dimandikan atau dishalatin". Di viewpoint mereka, mereka sedang berbuat baik. Berusaha mencegah kejahatan. Ibaratnya, jahat atau tegas dikit gapapa yang penting buat kebaikan. Bahkan mau pake kejadian-kejadian di sejarah pun, selalu ada konflik-konflik seperti ini. Orang-orang yang nyangka mereka melakukan kebaikan, sedang menumpas kejahatan, dengan melakukan kejahatan.
Inget penumpasan PeKaI dan pembantaian yahudi jaman nazi? They believe they are doing a good deed.
Tapi apa sih markers atau pembeda baik dan jahat itu?
Apakah kalo kristen udah pasti auto-baik di mata kristiani?
Apakah kalo icelamp udah pasti auto-baik di mata mooslim?
Apakah kalo orang beragama udah pasti auto-jahat di mata ateis?
Apakah markers-nya itu adalah kelompoknya?
Apakah kalo pro Prabouo pasti auto-jahat di mata pro Jokowee?
Apakah kalo pro Jokowee udah pasti auto-jahat di mata pro Prabouo?
Kalo emang demikian, kita ga atau bahkan belum bergerak maju dari narasi-narasi outdated jadul dari sejak jaman nabi-nabi. Isi alkitab, quran, dan torah penuh sama narasi ini.
Kalo ini terus dilakukan, kita udah tau sendiri hasilnya. Perpecahan, konflik, bahkan genosida. Yang jadi markers bukan lagi sifat baik dan jahatnya itu sendiri. Tapi label kelompok dan individu. Dan ini bahaya. Kenapa bahaya? Karena bikin kita males mikir. Bahkan untuk mikir kenapa suatu karakter itu baik atau jahat aja kita males mikir. Jadinya kita cuma balik ke jaman primitif, main lawan vs kawan. Apa iya genosida massal itu semua korbannya jahat? Kan engga.
Makanya kalo ada cerita-cerita genosida di kitab-kitab suci, urang udah ga bisa terima. Manusia dihakimi pasti bersalah karena "guilty by association." Singkatnya, guilty by association itu kalian salah karena kalian ada di grup itu. Di grup sana. Bukan di grup kami. Jadi kalian pasti jahat. Bahkan darah kalian halal.
Ini fallacy!

View more

+1 answer Read more

based on waht you've explain before, do you love your country or not?

Melihat circumstances and political climate seperti belakangan ini.. No! But I didn't hate either. Indifferent. Government and stuff are f-ed.

View more

+4 answers in: “https://twitter.com/Lini_ZQ/status/1111260678570958850 alasan para golput ini masuk akal juga, ya kan? parliamentary tresshold 4% + presidential tresshold 20% bikin oligark yg berperan bgt siapa yg jadi capres. kalo calon gubernur aja bisa dari independen, kenapa capres harus dari partai?”

politik lawan bisa jadi kawan yg kawan jadi lawan tergantung yg menguntungkan dirinya sm kelompoknya

Satu-satunya argumen urang untuk beralih dari golput jadi nyoblos jokowi (awalnya):
https://news.detik.com/berita/d-4489871/ustaz-sambo-pilpres-kental-campur-tangan-langit
But on 2nd thought.. Inget ga kalian tahun 2014 pun kaya pernah ada orang-orang yang kaya gini, bawa-bawa Tuhan:
http://m.tribunnews.com/nasional/2014/08/07/ini-penjelasan-ali-mochtar-ngabalin-yang-mendesak-allah-swt-berpihak-ke-prabowo-hatta
Atau yang seperti Ameen Rice gini? 2008 vs 2018?
2008 (broken government): https://nasional.kompas.com/read/2008/04/11/16193820/Amien.Rais.Pemerintahan.SBY.Broken.Government
2018 (10 tahun tidak ada yang negatif): https://www.jawapos.com/nasional/pemilihan/10/08/2018/amien-rais-sby-10-tahun-memimpin-negeri-ini-tidak-ada-yang-negatif/
Kalo turunan PeKaI, dajjal, setan ternyata pembohong.. ya maklumi saja. Namanya juga setan. Tapi kalo elit-elit agama yang bawa-bawa Allah, tanda-tanda langit, seperti Ameen Rice dkk, pasti dong standar akhlaknya tinggi. Kalo standarnya tinggi tapi pembohong juga, mau percaya ke mana lagi?
Lidah emang ga bertulang, sohabat-sohabat!

View more

menurut otak saya ini ga bener, masak jika suatu hari pilihannya jelek jelek kita dipaksa suruh milih, kembalinya jaman Siti Nurbaya hahahahaha. *eh salah topik

Kasarnya ya emang balik ke jaman dulu. Para hulubalang dan bangsawan menganggap diri lebih pintar dari rakyat jelata, jadi mereka yang kasih opsi-opsinya ke kita supaya kita yang milih.
"Kamu boleh milih, tapi harus pilih A atau B ya". Situasi yang sudah dikondisikan.
Sepanjang kepemimpinan Trump jadi presiden, urang ga pernah suka sama dia sampe sekarang. A douche bag president. Tapi urang akuin Amerika baik-baik aja, ga ada gonjang ganjing yang signifikan. Mana itu kata pendukung-pendukung Hilary yang bilang kalo Trump jadi presiden bakal ini-itu begini-begitu. Berlaku vice versa, urang pikir pun kalo Hilary yang jadi presiden, Amerika bakal baik-baik aja. Ga bakal kejadian perang dunia ketiga kaya kata pendukung Trump, kalo Hilary presidennya.
See? Keduanya sama-sama nakut-nakutin massa sampe ke mitokondria alias sampe ke titik ekstrim dimana orang ga bisa lagi berpikir jernih.
Buat yang pro Jokowee, meragukan ketakutan yang disebar kubu Prabouo itu gampang soalnya emang udah skeptis sama lawan. Pun vice versa. Tapi bisa apa engga kita skeptis sama argumen atau propaganda dari kubu sendiri itu yang ga gampang. Itu yang urang sebut objektif, berimbang, independen, dan ga berat sebelah. Sayang tantangan begini jarang didengungkan di publik.

View more

+4 answers in: “https://twitter.com/Lini_ZQ/status/1111260678570958850 alasan para golput ini masuk akal juga, ya kan? parliamentary tresshold 4% + presidential tresshold 20% bikin oligark yg berperan bgt siapa yg jadi capres. kalo calon gubernur aja bisa dari independen, kenapa capres harus dari partai?”

Kalau pendapat gw, perebutan blok rokan dan freeport punya aturan main yang jelas dan berhadapan dengan pihak eksternal yang keliatan. Sisa ikut prosedur yg fair aja. Beda dengan masalah HAM yg terlalu abu-abu, wajar kalau freeport lebih gampang dikuasai

Imho, either rokan dan freeport emang beneran susah direbutnya, atau (bisa jadi) malah ga susah sama sekali. Tapi kalo emang Jokowee udah terbiasa dengan selesain hal yang susah-susah, bukankah merupakan sesuatu yang bisa diterima akal sehat kalo kita mengharapkan hal yang sama di bidang hukum dan HAM?
Atau jangan-jangan ngerebut freeport dan rokan itu emang ga susah? Makanya, di kolom jawaban urang dari pertanyaan diatas, urang bilang skala prioritasnya aja udah beda. Kalo emang ngerebut rokan dan freeport itu beneran susah, ya mungkin Jokowee skala prioritasnya di situ.
I don't blame him. Silakan. But don't blame me either kalo urang bilang skala prioritas urang ga sama.

View more

+5 answers in: “Megawati sm wiranto musuhin yg golput, yg golput liat keduanya pendukung 01, lalu berasumsi jijik thdp mereka. Bisa jadi yg golput ngelirik 02 krn makin jijiknya mereka sm barisan 01 Tolong itu dungunya napa bisa sampe dna gitu pdhal ulah mereka juga nerapin sistem pres threshold :')”

Netizen indo pada pro kok sama keputusan brunei. Malah pada nanya kapan indo nerapin hal yang sama

Ketika ngerajam orang rame-rame sampe modyar adalah cerminan perilaku kaum agama yg moderat..

View more

+4 answers in: “https://twitter.com/Lini_ZQ/status/1111260678570958850 alasan para golput ini masuk akal juga, ya kan? parliamentary tresshold 4% + presidential tresshold 20% bikin oligark yg berperan bgt siapa yg jadi capres. kalo calon gubernur aja bisa dari independen, kenapa capres harus dari partai?”

kalo pilihanya cuma itu, kemudian anda akan mendirikan perusahaan, apakah akan anda tangani semua bagian sendiri? gak mau ambli karyawan? 😁kalo ini dikembalikan lg dlm pemilihan pilpres, apa artinya gak usah didirikan negara karena calonnya gak sebaik harapan kita? 😂

Dari dulu juga udah dibilang, penguasa kalo mau ngurangin golput, rangkul mereka. Dengerin maunya mereka apa. Bukan malah maki-maki sampe ngancem golput pake UU ITE. Sebaliknya, basis massa kubu oposisi malah didekati, pake pendekatan-pendekatan konservatif dan agama. Padahal basis ini pun udah antipati sama Jokowee dari awal.
Urang yakin mayoritas golput pun sadar mereka ga milih malaikat. Tapi tiap orang punya skala prioritas yang beda. Mungkin buat orang-orang yang pro Jokowee, isu-isu sosial perihal HAM, hukum, atau perlindungan minoritas bukan prioritas utama. Tapi buat golput kaya urang, hal-hal seperti itu justru prioritas. Disini, kalo skala prioritasnya aja udah beda dan ga saling bersinggungan, yaudah ga perlu dipaksakan. Mau ditakut-takutin soal "ntar kalo Prabouo berkuasa soal hukum dan HAM-nya bakal lebih parah, lho!", then be it. Emang selama masa Jokowee menjabat justru lebih baik? Ga juga, malah sama parahnya kok. Daripada sekedar basah mending mandi sekalian.
Kakek nenek urang tetep idup lewatin era 45, era 65. Kalopun ke depan nanti bakal seburuk era-era seperti itu, ya urang harus siapin diri. Dan jangan bilang itu salah kaum golput karena mereka golput, baik yang golputnya ke TPS pake hak suaranya buat coblos kedua paslon atau ngerobek kertas suaranya dan yang golputnya sama sekali ga pake hak suaranya. Ga mempan juga, sih, kasih mereka-mereka ini guilt trip. At least, for me.
Pikir kalian urang kaya umat para Piccolo, umat Monaslimin, umat Civitas perguruan tinggi Monas yang bisa ditakut-takutin kalo Jokowee menang terus adzan dilarang, PKI bangkit, et cetera cetera cetera?
Imo, mereka mungkin bisa dieksploitasi dengan paranoia begitu supaya ada guilt trip kalo ga milih. Tapi urang ga gobloc bin tolol kaya mereka yang ga mempan dan ga bisa bisa ditakutin hal sedemikian receh.
Justru dengan kalian pada nakut-nakutin, you're insulting my intelligence. Kalian anggep mereka ini (read: kaum golput) kaya anak kecil yang bisa ditakutin harus masuk rumah pas adzan maghrib soalnya banyak setan di luar. Urang tau kok kemungkinan terburuk pasca pilpres itu tetep ada. Tapi buat urang, kemungkinan paling buruk pun bisa jadi jalan keluar terbaik. Probably emang harus hit rock bottom dulu. Like they say, once you hit rock bottom, there's no way but to go up.
Ngomongin soal Freeport, soal Rokan, yang katanya susah ngerebutnya. Ada hasilnya dan ga gampang. Okelah urang terima argumennya. Eeeh giliran soal hukum & HAM aja, tiba-tiba yang pro Jokowee seringkali bilang "ga segampang itu dong, bro!" Wk. Tapi kalo soal Rokan atau Freeport bisa yhaa? Ehe.

View more

+5 answers in: “Megawati sm wiranto musuhin yg golput, yg golput liat keduanya pendukung 01, lalu berasumsi jijik thdp mereka. Bisa jadi yg golput ngelirik 02 krn makin jijiknya mereka sm barisan 01 Tolong itu dungunya napa bisa sampe dna gitu pdhal ulah mereka juga nerapin sistem pres threshold :')”

kalo dilihat akun si mbaknya, dia aktivis hak asasi kaum lgbt. ngerti sih kenapa dia golput, karena emang baik 01 atau 02 emang ngga ada yang mau gandeng lgbt (which is isu yg dia perjuangkan). malah 01 dan 02 justru gandeng kaum agamis semua

Islam di Malaysia dan Brunei juga termasuk islam nusantara. Sesuatu yang selama ini muslim di nusantara seringkali banggain, yang katanya beda dengan pendekatan-pendekatan islam di tim00r tengah sana, ga taunya ngeberlakuin rajam LGBT di Brunei.
Kaya kata lagu Pusha T.. if you know, you know.

View more

+4 answers in: “https://twitter.com/Lini_ZQ/status/1111260678570958850 alasan para golput ini masuk akal juga, ya kan? parliamentary tresshold 4% + presidential tresshold 20% bikin oligark yg berperan bgt siapa yg jadi capres. kalo calon gubernur aja bisa dari independen, kenapa capres harus dari partai?”

Gue masih oke oke aja si kalo org maunya golput! Tapi kalo org ngajak golput ini yg lucu! Golput bisa dibilang udah gak mau tau menau masalah pilihan! Tapi ngajak ngajak org buat ikutin Pilihanya! Kan lucu

Pake argumen LOTE (Lesser of Two Evils) seperti di pertanyaan sebelumnya (read: pilpres memilih yang agak buruk di antara yang paling buruk) pun ga bisa. Kenapa? Karena itu soal persepsi, bukan soal hak, kewajiban atau legalitas.
Let's say, silakan kalian pake itu LOTE, tapi itu ga bikin orang yang golput atau persuasif ke orang lain buat golput jadi ga berhak.
Kalo ngajak orang lain golput itu lucu, bererti ngajak orang lain untuk pilih capres tertentu seharusnya juga lucu. Kalo ngajak orang lain untuk makan di mall sah-sah aja, artinya ngajak orang lain untuk ga makan di mall juga sah-sah aja. Soalnya masih berupa hak.
Tapi emang lucu tau ngeliat gimana tetangga kanan-kiri, mentemen di grup chat mulai saling promosiin paslon yang diusung. Apalagi kalo sampe mereka berantem atau rusuh sendiri tuh antara pendukung kedua kubu. Malah lebih dari lucu, imho. Aku cinta pertikaian di antara kalian, 01 dan 02. Hiyaa!
Sama seperti memilih itu motifnya macem-macem --karena duitnya, karena cawapresnya ganteng, karena sukunya paling mendominasi di Indo, atau karena seagama, karena mantan suami, etc--, ga memilih itu juga motifnya cem-macem. Bisa karena males, dendam, apatis, ga mau tau, pernah dirugikan sama public policy-nya, atau bisa karena prinsip, ideologis, dll. Apapun motif memilih dan golput, ga bisa dipake jadi argumen.
Justru di hari-hari terakhir ini, ketika mulai dari Weeranto, Jokowee, Maroof A-team menyinggung soal golput, itu malah bikin orang jadi mikir: ada apa?
Padahal banyak isu krusial yang bisa diangkat kaya soal masalah sosial, soal rencana-rencana 5 tahun ke depan, imho. Tapi kenapa malah fokus ke golput? Hmm.
Kalo gini narasinya kan malah seperti orang jualan. Orang lain ga jadi beli dagangan dia, eh dianya malah mara-marah nyalahin yang ga jadi beli. Atau sama halnya kaya ketika orang lagi berdiskusi, lawannya ga yakin sama argumen dia, yang diserang bukan argumen si lawan tapi malah pribadinya si lawan (ad hominem). Duh, payah paslon kalian!

View more

+5 answers in: “Megawati sm wiranto musuhin yg golput, yg golput liat keduanya pendukung 01, lalu berasumsi jijik thdp mereka. Bisa jadi yg golput ngelirik 02 krn makin jijiknya mereka sm barisan 01 Tolong itu dungunya napa bisa sampe dna gitu pdhal ulah mereka juga nerapin sistem pres threshold :')”

Hanya krn lo gak sependapat dengan paslon yg sdg mencalonkan diri sbg kepala pemerintahan suatu negara, lantas lo merasa memiliki hak mengajak yg lain golput? Gue pribadi, pilpres bukan memilih malaikat vs iblis. Pilpres memilih yg agak buruk di antara yg paling buruk

Di question box masih ada aja yang mempertanyakan soal golput dan untuk mengajak orang lain golput. Bahkan hal sesepele ini aja kenapa daya nalar dan logika kalian ga sampe? Kenapa susah dipahami? Udah keracunan political thingy sampe stadium ilahi yha?
Alur logikanya sederhana aja. Memilih adalah hak. Namanya juga hak, bisa dipake bisa engga. Kalo ga dipake, yaudah gapapa. Ga ngelanggar UU manapun. Nih ya, urang uraikan varian dari premisnya, seperti ini:
1) Jika memilih adalah hak, lalu mengajak atau hal persuasif ke orang lain JUGA dibenarkan oleh UU. Itu yang dinamakan kampanye, promosi, buzzer, atau apapun itu namanya.
2) Sebaliknya, karena hak untuk memilih tidak harus dipake, maka sewajarnya jika seseorang melakukan hal persuasif atau meyakinkan orang lain untuk golput, itu juga tidak melangggar UU.
Dari 2 premis diatas menghasilkan konklusi:
Meyakinkan orang lain untuk memilih = Meyakinkan orang lain untuk golput.
Satu-satunya jalan bagi pemerintah untuk "memaksa" orang untuk tidak boleh meyakinkan orang lain untuk golput, adalah dengan mengubah status dari hak warga negara untuk memilih -- yaitu mengubahnya bukan lagi menjadi hak tapi menjadi kewajiban. Sama kaya bayar pajak.
Selain itu, sampe sekarang urang ga bisa nemuin argumen kuat buat maksa orang untuk memilih, atau ngelarang orang untuk persuasif ke orang lain supaya golput. Pasalnya, ingat!, selama memilih masih berupa hak, tidak ada celah dalam ranah legal. Kecuali seperti kata Weeranto kemaren, mau pake UU ITE. Udah bisa dipastikan itu bukan landasan yang kuat, soalnya semua juga tau UU ITE isi pasalnya pasal karet semua. Isinya ambigu alias vague. Namanya juga pasal karet, yang ga salah pun bisa jadi salah. Tergantung pesanan.

View more

+5 answers in: “Megawati sm wiranto musuhin yg golput, yg golput liat keduanya pendukung 01, lalu berasumsi jijik thdp mereka. Bisa jadi yg golput ngelirik 02 krn makin jijiknya mereka sm barisan 01 Tolong itu dungunya napa bisa sampe dna gitu pdhal ulah mereka juga nerapin sistem pres threshold :')”

soal ngajak golput kena pidana, ibarat hidup adalah hak. saudara milih hidup atau milih mengakhiri hidup itu hak. tetapi jika anda melakukan propaganda agar seseorang mengakhiri hidupnya, anda sudah terlalu lancang menggunakan hak. sesederhana ini sebetulnya, tuan

Golput kok disamain kaya bundir. Jangan ikutan gobloc kaya elit 01 dong, sayang. Baca dulu gih teori adequat sebelum belaga pinter soal hukum.
Pembelaan kubu 01: "Lah itu Prabouo sama semua tetek bengek 02 apa ga lebih gobloc kemakan hoax nenek oplas!??"
You know, doesn't mean elit kubu 02 gaada yang ga gobloc. Padahal sama banyaknya juga yhaa.. I know bolak-balikin things people said has been on your blood, but this time, don't twist my word, okeh beibih ;)

View more

+5 answers in: “Megawati sm wiranto musuhin yg golput, yg golput liat keduanya pendukung 01, lalu berasumsi jijik thdp mereka. Bisa jadi yg golput ngelirik 02 krn makin jijiknya mereka sm barisan 01 Tolong itu dungunya napa bisa sampe dna gitu pdhal ulah mereka juga nerapin sistem pres threshold :')”

At one point in time kissing was considered extremely strange and unusual, yagasih gui? Menurut lo sendiri, hal apa yang sekaranv ini menurut lo considered as xtremely strange unusual thing tapi blh jadi considered as norm in the future?

Minding one's business, setuju ga? Haa! Ga cuma aneh aja ngeliat orang ikutan nimbrung urusan orang lain, aneh iya, keganggu sendiri kitanya juga iya.
Tapi urang ngeliatnya, kegiatan nimbrung urusan orang ini justru berpotensi jadi sebuah hal yang dianggap biasa di lingkar masyarakat kita kedepannya. But you gotta keep in mind that, just because it could be a societal norm in the future, doesn't mean "minding one's business" is the right thing to do.

View more

+1 answer in: “Ada nggak hal yg lo anggep itu menarik tapi bertentangan sm societal norms? eg. gigi bengkok? ato hairy armpits on a girl?”

Megawati sm wiranto musuhin yg golput, yg golput liat keduanya pendukung 01, lalu berasumsi jijik thdp mereka. Bisa jadi yg golput ngelirik 02 krn makin jijiknya mereka sm barisan 01 Tolong itu dungunya napa bisa sampe dna gitu pdhal ulah mereka juga nerapin sistem pres threshold :')

Soalnya kubu 01 Jokowee bisa kalah kalo makin banyak yang golput. Elit-elit kubu 01 ini bego bin gobloc, imho. Gimana engga, secara hal mendasar macem bedanya kewajiban sama hak aja ga tau. Kewajiban itu yang harus digunakan, kalo yang ga harus digunakan itu namanya hak.
Itu Weeranto tolong dikasih saran sama kalian supaya mending dia ganti dulu UU Pemilunya atau ga ngajuin judicial review ae ke Mahkamah Konstitusi baru bisa main tuntut.
Ketakutan ini merambah di kalangan Jokoweers, takit kalah kalo pemilu kali ini banyak yang golput. Yang bener itu ya cari tau kenapa orang sekarang pada golput. Padahal -sama halnya ateis- golput itu bukan agama, jadi orang bisa berubah pikiran kalo dia lihat sikonnya ga seperti yang dia pikirkan di awal.
Tapi toh ternyata Jokowee lebih dengerin dan lebih bisa didikte sama lawannya, kan? I.e. dibilang anti agama, terpaksa pilih ulama jadi cawapres. Benernya ada banyak lagi contoh lainnya. Para golput sekarang ini yang dulunya milih dia malah ga didengerin, malah ditakut-takutin, parahnya lagi diancam.

View more

+5 answers Read more
Next