aduh ngebayangin rissa ndusel-ndusel punggung nya dio kalau lagi nginep. bikinin fic nya dong ris hahah

masih pagi... (udah siang ris) ((oiya maap))
-
minggu pagi, hujan, tidur dipelukan orang tersayang. apalagi yang bisa seorang clarissa minta?
ada.
waktu yang lebih lama.
-
dio masih sibuk ngetik dan bolak balik setiap halaman tumpukan buku disampingnya. 3 jam alias 180 menit dan dio masih dalam posisi yang sama. duduk di tempat tidur rissa, membelakangi rissa, ngetik-ngetik delete lalu ngetik lagi, kadang ngacak-ngacak rambutnya sendiri karena pusing, begitu terus on repeat.
"kamu ga laper? aus? apakek?" rissa nanya, lagi. dio tidak merubah posisinya, bahkan untuk nengok ke belakang sedikitpun.
"engga."
iya. sesingkat itu. demi Tuhan rissa rasanya mau nendang laptop dan semua buku itu. kalo aja dia ga inget ini skripsi pacarnya which is masa depan aldio teidra + laptop itu mahal.
"....kamu ga capek apa?" lagi, rissa nanya lagi. dio kayaknya agak bete, dia ngacak-ngacak rambutnya lagi, padahal rambutnya udah pendek gatau apa yang diacak-acak.
"rissa, kalo aku capek aku berhenti sendiri kok. oke?" katanya dengan nada lumayan buat bikin rissa tambah bete. si empunya nama cuma ngangguk, males ngomong lagi.
akhirnya dia cuma ngeliatin punggung dio, fyi rissa is such a fetish for boy's back, & mata rissa masih terkunci di punggung yang tertutup kaos putih. pusing karena dia sadar makin lama punggung pacarnya makin bagus.
"jangan ngeliatin aku kayak gitu." dio tiba-tiba bersuara.
"hah apaansih? pede banget."
"ris berasa diliatin tuh."
"........iya maaf."
dio akhirnya nengok ke belakang, senyum sambil ngeliat rissa yang bermuka bete. "jangan diliatin aja, emangnya kamu gamau peluk?"
dan begitu dia selesai ngomong, rissa langsung meluk dari belakang.
"ris."
"sebel... aku kangen banget gimana dong." kata rissa sambil meluk dio erat banget & nduselin kepalanya ke punggung dio.
"aku juga kangen." dio megangin tangan rissa dipinggangnya sambil senyum, found it cute tiap ngeliat rissa jadi manja kalo udah kangen.
"mau gini terus aja selamanya." rissa asal ngomong dan masih sibuk ndusel ke punggung dio, karena se e n a k itu.
"yah janganlah."
"ih kok jangan?"
dio ngelepasin pelukan rissa dan balik badan, ngebuat mereka sekarang hadap hadapan.
"ih aku kan masih mau peluk!" rissa protes.
"yaudah sini peluk." dio langsung narik dia dan meluk, erat. "kalo peluk dari belakang nanti aku gabisa liat muka kamu dong?"
"aku mau peluk dari belakang..." rissa masih ngotot mau peluk dari belakang, punggung dio tuh salah satu life goals dia kayaknya. dio cuma ketawa dan nyubit pipi rissa.
"you're such a back fetish, tau ga?"
"a...apasih!!!"
dio makin gemes ngeliat muka rissa udah merah, malu. dia emang paling ga suka kalo masalah punggung fetish dibawa-bawa. tapi ngisengin rissa seru,
"ris."
"apa?"
dio nunduk dan mainin rambut rissa sebelum akhirnya dia berbisik, pelan "kalo liat punggung aku tanpa baju gimana?"
-
ha.
ha.
ha.
HA BAPER HA MANA ES BATU MANA
sekalian pap punggung mas teidra